Seputar Majelis Darul Qohar


Assalamuallaikum Wr.Wb..

Alhamdulillah Pada Hari Senin, 11 Oktober 2010, Majelis Pengajian kami Telah Terbentuk, Dengan Nama ” MAJELIS PENGAJIAN DARUL QOHAR / RUMAH BELAJAR DARUL QOHAR “, Setelah hampir 6 tahun kami berkumpul dan belajar tentang Paradigma Numerik Al Quran, maka terbentuklah susunan pengurus dari majelis pengajian kami, Adapun susunan pengurusnya sebagai berikut :

  1. Ketua          : Marwah Ali Ashari
  2. Sekertaris  : Khoirul Abror, Syaiful Husein
  3. Bendahara : Khoirul Abror
  4. DikJar        : Chairul Aman, Syaiful Husein
  5. Konselling  : Chairul Abror, Chairul Aman, Syaiful Husein, Ahmad Fattah
  6. Humas        : Ahmad Fattah, Husein Supriyono, Sutanto, Juarianto
  7. Umum        : Khoirul Abror, Syaeful, Wijianto, DLL

Demikian susunan pengurus pengajian DARUL QOHAR untuk periode 09 Oktober 2014 s/d 10 Oktober 2016..

Untuk Jadwal Kajian Kita Yaitu :

  1. Senin Malam Selasa Ba’da Ashar s/d Ba’da Isya’ Oleh : Ust. Syaiful Husein ( Kajian Numerik ).
  2. Kamis malam Sabtu  Ba’da Isya’  Oleh : Ust.Chairul Aman ( Kajian Numerik/Psikologi Al-Quran).
  3. Setiap Hari Kerja : 10:00 s.d. 17:30 (Diskusi / Perkenalan / Conselling)

Kepada para masyarakat yang ingin mengkaji Al Quran dari sisi Numerik dapat hadir di waktu-waktu yang telah tertulis di atas…

Wassalam

Syaiful Husein

74 Balasan ke Seputar Majelis Darul Qohar

  1. Shahrin Abd. Rahman berkata:

    Assalaamu’alaikum Pak Ust,
    Bagaimana saya hendak belajar Buka Juz Diri. Berapa lama yang diperlukan untuk mempelajarinya dan berapa mahar yang harus disedekahkannya. Hj. Shahrin, Malaysia

    • darulqohar berkata:

      Wa’alaikum salam Wr.Wb..
      semua orang bisa belajar untuk membuka juz orang lain dan juz diri sendiri, intinya adalah selalu dekat dengan AL-Quran, dan dalam membaca Al-Quran tersebut harus terstruktur dengan baik dan benar…
      di pengajian kita untuk menjalani hal tersebut, atau jika sudah di buka-kan juznya maka harus menjalani Steping pembacaan Al-Quran, ada 3 Stepping yang harus di jalani, Steping pertama kurang lebih 29 hari ( muali dari pembacaan Juz pribadi 4 kali, pola munzil, pola munzil pribadi, pola sahabat, pola 12 halaman, pola akbar 1, pola akbar khusus, pola akbar 2, dan terakhir pola 45 halaman ) sampai steping tahap 1 ini, insyAllah sudah bisa membaca pola-pola apapun, baik pola untuk pengobatan/medis, pola untuk permasalahan keluarga, lingkungan, pola sihrin dll ) semua itu di baca setipa hari..
      Tahapan steping kedua adalah ( mulai dari tadarus, penulisan Asmaul husna juz, pembacaan AH, Penulisan Struktur Ain, pembacaan Stuktur ain, Penulisan Struktur Abjad, pembacaan struktur abjad ) di tahap ini biasanya mulai agak berat menjalaninya, terutama penulisan, ada aturan-aturan yang jelas dalam penulisan di sini, penulisan bentuk huruf dll harus sama dengan yang ada di AL-QURAN…ini memakan waktu 133 hari lebih. dan yang terakhir dan paling berat adalah Pembacaan AH-AL BARA’AH ini hampir 4 – 5 bulan dan satu hari membaca minimal 5 surah, dan tidak boleh terputus…..
      setelah selesai InsyAllah banyak manfat ilmu yang kita dapat, bisa membuka juz orang lain merupakan salah satu bonus yang di berikan ALLAH swt, dan banyak hal-hal lain yang bisa kita rasakan manfatnya…dan itu tidak berhenti di situ saja, 2-3 hari sekali kita harus membaca juz polos, selingi munzil, selingi munzil pribadi, dan selingi pola 45, ini di lakukan untuk ” menjaga ” power kita pribadi…semua yang berat itu akan mudah jika kita IKHLAS menjalankan nya, karena yang kita baca adalah Kitab suci AL-QURAN yang merupakan petunjuk/huda bagi umatnya yang mau membacanya, dan juga sebagai blue print kehidupan kita dalam mengarungi kehidupan ini..
      Semua itu, bisa anda pelajari dan silahkan datang ke alamat kami, dengan suka cita kami menyambut semua orang yang ingin belajar dan memperdalam Ilmu Al-Quran ini, dan tidak ada mahar seperakpun untuk hal ini, kami ikhlas membagi keilmuan ini, agar manusia kembali ke AL-QURAN, dan menjadi umat yang berjaya seperti zaman Rasulullah, karena umatnya sangat dekat dengan Al-Quran…

      3-4 Tahun yang lalu sahabat-sahabat kami pernah ke malaysia ( Kuala lumpur ) atas undangan ibu mery ( meryam ) dalam rangka mengajar dan buka kelas di sana..kami di tanggung biaya akomodasi dan penginapan di sana, jadi kami bisa sampai dan mengajar di sana ( 1 Bulan lamanya )..

      Itu saja mungkin yang bisa kami jawab dan ceritakan, jadi kami tidak memungut mahar utk ilmu Allah, dan tidak ba’iat atau apapun namanya..kami adalah kaum muslimin yang hanya memperdalam Keilmuan Al-Quran dari sisi Struktur dan Numerik Al-Quran, dan Alhamdulilah banyak hal-hal yang bermanfat yang kami dapatkan…
      Jika ingin lebih jelas bisa hubungi kami di 021-70242989 atau 0812-8147454 dengan Marwah Ali Ashary ( Juz 18 )…

      Wassalam Wr. Wb

      • khairul asfar berkata:

        Assalamu’alaikum wr.wb. pak Ustadz.
        Saya khairul Asfar (juz 12) dari Batam, saya mau tanya kalau kita belum selesai steeping boleh gak kita baca pola pembersih rumah (supaya rumah cepat terjual)
        saya akan pindah tugas ke daerah luar batam. jadi rencana rumah saya yang di Batam mau saya jual. Jika boleh saya membaca pola tersebut, setelah selesai kita baca pola untuk pembersih rumah (supaya ruah cepat terjual) apakah ada do’a khusus untuk hal ini. Terima kasih (Assalamu’alaikum wr.wb)

  2. eman berkata:

    mohon bantuan untuk alamatnya di mana?

    • darulqohar berkata:

      Alamat Jl.Bakti Abri Ujung Rt.02/10 No.57, Kelurahan Sukamaju Baru, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok ( Di Musholla Perusahaan Meubel SUSAN GALLERY ), Kelas Belajar Tiap hari Senin, Rabu dan Kamis Ba’da Ashar s/d Selesai )..Keluar Tol Cimanggis, ambil arah ke Kanan, kira-kira 2 Km an ada AlfaMidi Belok Kiri, terus saja sampai Ujung Jalan Bakti Abri…..

    • mukromin berkata:

      tertarik.. hnya saja skrg msh blm tpt wktunya……
      ins allah..??

    • khairul asfar berkata:

      taman sari hijau blok F6 no. 3, Rt.007/Rw.003 kel. tiban baru kec. Sekupang – Batam Kepulauan Riau

  3. Nor Azam Bin Md Idris berkata:

    Salam Kawan2, Saya Nor azam 14.Saya masih mengajar dan rumah saya masih terbuka untuk anak2 Qitri yang berada di Malaysia.Tapi pengaji-pengaji untuk pasien tidak ada dan juga kerana tugasan, maka itu saya tidak mengambil pasien.
    Nomor Hp saya 012-3225114.Kerana Alquran 18 baris susah didapati di Malaysia,saya akan sarankan pada mereka order dari Darul Qohar.

    • darulqohar berkata:

      Wa’alaikum salam
      salam buat teman-teman yang belajar keilmuan ini di malaysia pak, alhamdulillah bapak masih meluangkan waktu untuk mengajar keilmuan ini,
      terima kasih yg telah menyarankan rekan-rekan nya untuk order al-quran 18 baris ke Darul Qohar..oh ya pak dapat salam dari Pak Iskandar Soemabrata ( Om A’ng )….
      Wassalam…

      R21

  4. ahdan berkata:

    ass…
    nama saya Sutiani …
    saya jus brapa ya stad???
    dan bagai mana cara membaca juz, seperti pake bismillah atau tidak, dsb..?
    terimakasih sebelum’y…

    • darulqohar berkata:

      Wa’alaikum Salam Wr.Wb
      Maaf kami membutuhkan data yang lengkap sebelum kami membuka kan juz, karena data ini untuk data base kami bagi orang-orang yang telah kami buka-kan juznya, tata cara baca silahkan ikuti di halaman blog ini…terima kasih…wassallam wr.Wb…

  5. Ipank berkata:

    Asalamualaikum
    saya pernah mengikuti kajian ini dari tabloid khalifah, tetapi tabloid tersebut sekarang sudah berubah, saya tinggal di Tg. Priok, adakah teman” yang mempunyai keilmuan ini di daerah Tg. Priok dan skitarnya yang bisa mengajarkanya kepada saya, terima kasih wassalam wr wb

    • darulqohar berkata:

      Wa’alaikum salam Wr.Wb..
      Silahkan bapak datang ketempat kami di daerah depok, di daerah sana kami belum punya kelas belajar pak…terma kasih

      Wassalam Wr.WB

  6. Turiman Fachturahman Nur berkata:

    Tambahan Materi untuk Saudara-saudara satu pengajian di Darul Qohar Depok…
    Struktur Al-Qur’an
    Untuk membuka tabir misteri “Thawaf”-nya Al-Qur’an dan memahami Kajian Struktur Al-Qur’an Digital, maka yang perlu dipahami lebih dahulu adalah Struktur Al-Qur’an, artinya yakinkan dahulu pada diri anda, bahwa Al-Qur’an itu terstruktur, karena ada tiga elemen penting dari struktur Al-Qur’an, yaitu struktur ayat, struktur surah, dan struktur Juz, jadi ketika kita berbicara Struktur Al-Qur’an, maka yang dimaksudkan, Al-Qur’an terdiri dari 6236 Ayat, 114 Surah dan 30 Juz.
    Pertanyaannya adalah Apakah yang dimaksud dengan JUZ ? Sebuah JUZ merupakan bagian atau komposisi tertinggi dalam Struktur Al-Qur’an, karena setiap JUZ terdiri dari beberapa surah, didalam surah terdiri beberapa ayat, dan dapat dipastikan bahwa setiap JUZ jumlah ayatnya sudah terkomposisi dan terperinci atau struktur ayatnya berbeda diantara JUZ yang satu dengan JUZ yang lain, misalnya Juz 18 terdiri dari 202 Ayat yang terdiri dari Surah 23 Al Mukminuun yang terdiri dari 118 ayat, Surah 24 An Nur terdiri dari 64 ayat dan sebagai dari Surah 25 Al Furqan yaitu 20 ayat, jadi jumlahnya 118 + 64 + 20 = 202 ayat, inilah jumlah ayat Juz 18.
    Selanjutnya JUZ disimbolkan dengan apa ?, Juz disimbolkan dengan huruf, misalnya Juz 18 disimbolkan dengan huruf ke 18, yaitu huruf A’in, karena huruf Ain adalah huruf ke 18, jadi jika Juz 21, maka disimbolkan dengan huruf ke 21 yaitu huruf Qoof, karena Qoof adalah huruf ke 21, oleh karena itu Juz tidak memiliki nama, yang memiliki nama adalah surah, misalnya surah ke 76 bernama Al Insan atau Al Dahri, artinya manusia, surah ke 23 bernama Al-Mukminuun, artinya orang-orang yang beriman, dan surah ke 47 bernama surah Muhammad, demikian juga surah ke 53 bernama An Najm artinya bintang, surah ke 91 Al Syamsi artinya Matahari, bagaimana dengan ayat ?, maka ayat ditandai dengan angka, bahkan ada ayat yang hanya berupa huruf, misalnya surah ke 42, ayat 1 dan 2 hanya berupa huruf , yaitu huruf Haa, Mim, A’in, Siin, dan Qaaf, jadi disamping angka juga hadir struktur huruf dan antar huruf dan angka/bilangan selalu berpasangan, maha benar Allah yang telah memasang-masangkan apa yang ada di alam semesta baik di bumi dan di dalam diri manusia, dan apa-apa yang tidak kamu ketahui (QS Yasiin (36) Ayat 36).
    Pertanyaannya bagaimana mencari letak JUZ didalam Al-Qur’an Mushaft Ustmani? jika mushaft Al-Qur’an yang anda miliki terdiri dari 18 baris standar, artinya satu halaman terdiri dari 18 baris dan ayatnya berakhir dipojok halaman, maka untuk mencari letak JUZ, anda bisa memperhatikan pada setiap awal JUZ ada huruf yang dicetak tebal/ditebalkan, dan pada lurus ke kiri dari huruf yang ditebalkan terdapat struktur huruf yang membentuk kata AL JUZ yang ditulis secara vertikal, pertanyaannya, apakah AL JUZ itu ?
    Untuk membuka makna kata AL JUZ maka digunakan struktur bilangan atau angka, artinya kata Al JUZ kita transfer atau diterjemahkan ke dalam bahasa angka atau digital, dengan cara menghubungkan ke struktur huruf yang membentuk kata AL JUZ kedalam bahasa angka melalui urutan huruf hijaiyah Al-Qur’an.
    Kajian berikut ini adalah kajian Al-Qur’an Digital dengan menggunakan pendekatan munasabah (korelasi, sinergisitas) melalui Metode Struktur dan Format Al-Qur’an atau MSFQ, yaitu sebuah metode eksplorasi kajian dengan menggunakan dua pendekatan, yaitu:
    Pertama, Metode Struktur Al-Qur’an melalui bilangan dengan pendekatan Munasabah/korelasi/sinergisitas; misalnya angka ke struktur surah dst
    Kedua, Metode Format melalui Struktur Format Al-Qur’an Mushaft Ustmani 18 baris standar dengan pendekatan struktur format Al-Qur’an.
    Kedua metode ini adalah merupakan kajian Al-Qur’an dengan pendekatan Munasabah yang diperluas terhadap variabel Al-Qur’an yang selanjutnya disebut Kajian Struktur Al-Qur’an Digital, yaitu suatu kajian sinergisitas (MUNASABAH) antara ayat-ayat Kauliyah dengan ayat-ayat Kauniyah yang merupakan salah satu cabang dari kajian Keilmuan Al-Qur’an Verbal, yaitu Munasabah juga merupakan Kajian Munasabah yang diperluas terhadap elemen-elemen atau Variabel Struktur Al-Qur’an dibalik Format Mushaft Ustmani 18 Baris yang merupakan kajian Struktur Al-Qur’an dengan pendekatan Struktur melalui angka-angka/bilangan-bilangan atau numerik (digital) dan Format Al-Qur’an dengan tanpa mengenyampingkan Keilmuan Al-Qur’an Verbal (Ilmu Tafsir) yang sudah ada pada peradaban Islam selama ini, bahkan kajian ini adalah melengkapi kajian yang sudah ada dan merupakan SUPLEMEN SPIRITUAL QUR’ANI (SSQ), berdasarkan MSFQ (Metode Struktur dan Format Al-Qur’an) berdimensi ESQ.

    2. Eksplorasi Struktur Huruf dari kata AL JUZ
    Perhatikan ilustrasi berikut ini :

    Kata AL JUZ terdiri dari huruf-huruf dan jika huruf-huruf itu kita urutkan struktur hurufnya berdasarkan struktur Al-Qur’an adalah Alif Lam adalah huruf ke 31, huruf Jim adalah huruf ke 5, huruf Ra adalah huruf ke 11 dan huruf Hamzah adalah huruf ke 29, jika kita tambahkan atau dijumlahkan struktur angka tersebut, yaitu 31 + 5 + 11 + 29 = 76. Apabila bilangan 76 ini dimunasabahkan/dikorelasikan ke dalam struktur surah dalam Al-Qur’an, maka surah ke 76 adalah bernama Al Insan/Al Dahri, artinya Manusia. Pertanyaannya manusia yang bagaimanakah ? yaitu manusia yang mengenal diri, sadar diri dan mememukan fitrah dirinya serta paham tentang asal kejadiannya. Coba renungkan surah ke 76 Ayat 1 s/d 4 : “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadi dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang- orang kafir rantai belenggu dan neraka yang menyala-nyala (QS Al Insan (76) Ayat 1-4).
    Dengan demikian struktur kata AL JUZ ketika diterjemahkan kedalam bahasa angka adalah 76 dan ketika angka 76 dihubungkan ke struktur surah dalam struktur Al-Qur’an, maka surah ke 76 bernama Al Insan/Al Dahri artinya Manusia dan surah ini pokok-pokok isinya berbicara tentang penciptaan manusia, petunjuk-petunjuk untuk mencapai kehidupan yang sempurna dengan menempuh jalan yang lurus, memenuhi nazar, memberi makan orang miskin dan anak yatim serta orang yang ditawan karena Allah : takut kepada hari kiamat, mengerjakan sholat tahajud dan bersabar dalam menjalankan hukum Allah, ganjaran terhadap orang yang mengikuti petunjuk dan ancaman terhadap orang yang mengikarinya.

    3. Eksplorasi Struktur Huruf dari Kata JUZ
    Kata JUZ terdiri dari huruf-huruf Jim adalah huruf ke 5, huruf Ra adalah huruf ke 11 dan huruf Hamzah adalah huruf ke 29, jika kita jumlahkan struktur angkanya, yaitu 5 +11+ 29 = 45. Apakah makna bilangan 45 ?, apabila bilangan 45 dihubungkan (dimunasabahkan) ke struktur surah dalam Al-Qur’an, maka surah ke 45 bernama Al Jaatsiyah yang artinya yang bertekuk lutut, mengapa dinamakan Al Jaatsiyah, karena diambil dari ayat ke 28 yang menyatakan : “Dan pada Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang mendengar dan melihat, Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; adalah Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu hari itu kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk melihat buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan”. Kemudian pada surah 45 ayat 29-30 menyatakan: “(Allah berfirman): “Inilah Kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan.” Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh maka Tuhan mereka memasukan mereka ke dalam rahmat-Nya (surga) Itulah keberuntungan yang nyata.
    Pertanyaannya bagaimana Allah akan memasukan manusia kedalam rahmat-Nya? Dan mendapat keberuntungan, jika manusia beriman tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya, itulah yang Allah nyatakan dalam surah 45 ayat 20: “Al-Qur’an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.” Kemudian pada ayat ke 15 surah ke 45 Allah menyatakan: “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh maka itu adalah untuk dirinya sendiri, barang siapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmu kamu dikembalikan”.
    Pertanyaannya apakah manusia yakin, bahwa akan ada pertemuan dengan Tuhannya ?, jika yakin berarti yakin juga terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang lain, maka sesungguhnya Al-Qur’an yang berjumlah 30 JUZ itu sesungguhnya mewakili 30 tipologi manusia, pertanyaan ketika manusia membaca 30 JUZ dibulan ramadhan sesungguhnya ia sedang melakukan kilas balik, nafak tilas kehidupannya atau berthawaf, sesungguhnya ia sedang mencari apa dari 30 Juz Al-Qur’an itu? sesungguhnya ia sedang mencari “Lailatul Qadr” di malam kemuliaan bagi dirinya, yaitu menemukan JUZDIRI-nya diantara 30 JUZ itu dan ketika ia menemukan JUZDIRI-nya sesungguhnya ia menemukan “Lailaltul Qadar” bagi dirinya, kiblat dirinya, yaitu Ka’bah dirinya, oleh karena itu didalam hadist qudsi Rasulullah menyatakan : “Pada suatu malam kulihat diriku tertidur disamping Ka’bah dan aku terbangun kemudian thawaf mengelilingi Ka’bah”. Ada dua kata kunci Ka’bah dan Thawaf, apa makna Ka’bah dan Thawaf sebenarnya, mengapa manusia diperintahkan Allah untuk menghadap ke Ka’bah dan berthawaf mengelilingi Ka’bah?
    Ka’bah menjadi petunjuk bagi manusia, dan Ka’bah sesungguhnya adalah simbolisasi Al-Qur’an itu sendiri, karena Al-Qur’an itu adalah petunjuk bagi manusia, dan JUZ adalah mewakili diri manusia, itulah yang diriwayatkan oleh Mughirah Bin Syubah berkata: Seorang laki-laki minta izin kepada Rasulullah SAW, yang sedang berada diantara Mekkah dan Madinah Ia berkata: ”Sesungguhnya tadi malam terlewatkan olehku (tidak membaca) akan juzku dari Al-Qur’an, sesungguhnya saya tidak mengutamakan yang lain di atas Al-Qur’an”. Hadist ini diriwayatkan Abu Daud, dengan derajad hadist Hasan dan hadist ini tersebut dalam Buku Sejarah Al-Qur’an (Tarikul Al-Qur’an) edisi bahasa Arab Ibrahim Al Absyari yang dialihkan bahasa oleh Drs H.ST Amanah cetakan 1993, hal 123 dan beliau menyatakan: “Pembagian juz yang dilakukan oleh kaum muslimin ini, karena memberi bagian pada jam-jam hari mereka,sehingga mereka tidak absen dari membacanya (Al-Qur’an) dan agar mereka mudah untuk menyelesaikan sampai akhirnya minggu demi minggu atau bulan demi bulan”
    Coba perhatikan ada bahasa kode, ketika tanda orang berhaji adalah Tahalul, yaitu dipotong 3 (tiga) helai rambut dan 10 (sepuluh) kuku jadi 3 + 10 = 13, angka 13 ini adalah mewakili titik anatomi manusia dari ujung kepala sampai dengan ujung kaki dan ketika angka 13 ini dihubungkan ketika orang mendirikan sholat, maka didalam sholat ada 13 rukun dari takbiratul sampai dengan salam, tetapi bukankah manusia sholat itu menggunakan sajadah dan surah yang bernama As Sajadah atau sujud batasan adalah surah yang bernomor 32. Pada surah ini terdapat ayat sajadah pada ayat ke 15 yang menyatakan: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, adalah orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami) mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhanmu, sedang mereka tidak menyombongkan diri. (QS As Sajadah (32) Ayat 15)
    Jika penjelasan di atas kita transfer kebahasa kauniyah (bahasa angka), maka ilustrasi berikut ini adalah gambarannya:

    Berdasarkan ilustrasi di atas manusia mendirikan sholat adalah 13 rukunnya dan ketika mendirikan sholat di atas sajadah dan surah As Sajadah pada struktur Al-Qur’an adalah surah ke 32, maka jika kita baca secara kauniyah, “manusia beriman sedang mendirikan 13 rukun sholat di atas sajadah” atau jika ditransfer ke bahasa angka, adalah 13 dan 32, jika kita tambahkan kedua angka itu 13 + 32 = 45. Bukankah angka 45 itu secara struktur huruf sama dengan tulisan JUZ yang jumlahnya 45 dan surah ke 45 adalah Al Jaatsiyah artinya yang bertekuk lutut, jika dikembalikan dengan bahasa kode format, maka pada awal JUZ atau disetiap awal JUZ atau halaman pertama JUZ dalam format Al-Qur’an Mushaft Utsmani 18 baris selalu ada huruf yang dicetak tebal dan perhatikan lurus ke kiri ada tulisan Al JUZ yang ditulis secara vertikal, yang secara struktur huruf jumlahnya 76 (lihat ilustrasi eksplorasi Tulisan Al JUZ di atas) dan surah ke 76 adalah bernama Al-Insan artinya manusia, sedangkan tulisan JUZ struktur hurufnya berjumlah 45, jika ditransfer ke bahasa kedua angka itu adalah 76 dan 45, jika dibaca secara kauniyah kombinasi kedua angka tersebut adalah “Manusia/Al-Insan/Al-Dahri yang bertekuk lutut (Al Jaatsiyah)”, pertanyaannya apa yang dilakukan manusia beriman ketika dalam keadaan bertekuk lutut ?, yaitu ada tiga hal, sedang tafakur, sedang tadarus membaca Al-Qur’an, atau sedang sholat. Ketiga hal inilah yang sering dilakukan oleh Rasulullah SAW di malam hari untuk menegakkan surah Al Ankabuut (29) Ayat 45, Surah Al Munzamil (73) ayat 4,5,6 dan 20) yang kemudian ditegur oleh isterinya Siti Aisyah r.a. sampai tiga kali.
    Untuk memperjelas struktur Al-JUZ dan JUZ, eksplorasi berikutnya adalah angka 76 dan 45 ditambahkan , maka 76 + 45 = 121, karena angkanya lebih dari 114, maka dikurang dengan 114, jadi 121 –114 = 7, apa makna angka 7, angka 7 jika dihubungkan dengan struktur surah ke 7 adalah bernama Al Araf artinya tempat tertinggi, bukankah sedekat-dekatnya seorang hamba adalah ketika bersujud, sebagaimana dinyatakan Rasulullah SAW: “Dari Abu Hurairah katanya: “Rasulullah SAW bersabda: “Sedekat dekatnya seorang hamba kepada Tuhan-Nya ketika ia bersujud, karena itu perbanyaklah do’a”. (Shahih Muslim Nomor 435), Bukankah ketika manusia sujud ada tujuh tumpuannya, yaitu: kaki kiri (1), kaki kanan (2), lutut kiri (3), lutut kanan (4), tangan kiri (5), tangan kanan (6), kepala (7), bukankah ibadah haji tujuh (7) kali thawafnya, jika kedua angka itu ditambahkan, yaitu 7 titik sujudnya dan 7 kali thawafnya menjadi 7 + 7 = 14 dan surah ke 14 adalah Ibrahim, bukankah Ka’bah itu didirikan oleh Nai Ibrahim AS sebagai simbolisasi Tauhid, renungkan pesan Allah pada surah ke 7 Al Araf ayat 172; “dan Ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) “Bukankah Aku ini Tuhanmu ? Mereka menjawab” “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat (kematianmu) kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (Keesaan Tuhan)” (QS 7 Al Araaf ayat 172) dan kemudian Allah menyatakan : “Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah kitab (Al-Qur’an) kepada mereka yang kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman (QS 7 Al Raaf ayat 52)
    Pertanyaan apa yang Allah perintahkan kepada Muhammad SAW?, yaitu :

    BACALAH apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al kitab (AL-QUR’AN) dan DIRIKAN SHOLAT. Sesungguhnya Sholat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan KEJI dan MUNGKAR. Dan sesungguhnya mengingat Allah (Membaca Al Qur’an dan Sholat) adalah lebih besar (Keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan, (QS Al Ankabuut Laba-laba (29) Ayat 45)
    Ketika sedang membaca Al-Qur’an, Allah SWT memperintahkan kepada manusia “bacalah yang paling mudah bagimu dari Al-Qur’an” (QS Al-Munzamil (73) ayat 20), pertanyaannya apa yang paling mudah bagimu dari Al-Qur’an, berdasarkan kajian Keilmuan Struktur Al-Qur’an Digital melalui MSFQ (Metode Struktur dan Format Al-Qur’an) adalah JUZDIRI masing-masing, mengapa, karena manusia diwakili oleh juzdiri masing-masing sebagai “jatidirinya” atau fitrah dirinya, ketika ia membaca dan mengkaji JUZDIRI-nya sesungguhnya ia sedang memasuki “Baitullah” bagi dirinya atau berthawaf dengan Al-Qur’an untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dirinya, yaitu Allah SWT atau kekasih dirinya, itulah didalam hadits qudsi: “Allah berfirman, Rasulullah SAW Bersabda “Tak dapat memuat Zat ku, bumi dan langit. Yang dapat memuat Zat-Ku hati hamba-Ku yang mu’min yang lunak dan tenang” Sahabat bertanya: “Ya Rasulullah siapakah orang yang terbaik itu ? Jawab Rasulullah SAW” Semua orang Mu’min yang bersih hatinya”, maka ditanya lagi, apa arti orang yang bersih hati itu? Dijawab Rasulullah SAW. “Ialah orang-orang yang taqwa, suci hatinya, tidak ada kepalsuan padanya, tidak ada kemunafikan padanya, dan tidak ada kezaliman, dendam, khianat serta dengki”.
    Pertanyaannya bagaimana manusia membersihkan qalbu dari sifat-sifat buruk pada diri manusia?. Di dalam buku Fsikologi Islam terbitan dari Universitas Muhamadyah Surakarta, Tahun 2001, pada hal 108 : “Teknik-teknik pembersihan diri adalah penyembuhan bentuk gangguan mental, karena ada asumsi bahwa gangguan-gangguan ini berkaitan dengan PENYAKIT HATI, AHLAK YANG BURUK dan DOMINASI HAWA NAFSU MANUSIA, maka qalbu tersebut perlu dibersihkan. Ada beberapa cara antara lain: 3. Teknik Membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an secara harfiah (kata demi kata, bukan hanya makna) merupakan obat bagi penyakit-penyakit hati, oleh karena itu membaca (mendaras) Al–Qur’an dapat dijadikan sebagai teknik membersihkan diri. Lukman AQ Soemabrata (1991) mengajukan suatu teori dan teknik mendaras Al-Qur’an yang dapat mempunyai pengaruh baik fisik terutama fsikologis dan Spiritual. Antara lain menyebutkan, bahwa setiap orang mempunyai kecocokan dengan JUZ tertentu, jika ayat-ayat dalam JUZ itu dibaca maka pengaruhnya akan besar” . Itulah yang dikenal dengan JUZDIRI
    Juzdiri adalah fitrah diri manusia, melalui pengenalan dirinya atau thawaf terhadap perjalanan hidupnya akhirnya manusia menemukan apa ia cari selama ini, karena sesungguhnya tiap-tiap manusia berbuat menurut berdasarkan keadaan masing-masing dan mencari “tanda” dirinya, sebagaimana dinyatakan : “Kami akan memperlihatkan kepada mereka TANDA-TANDA Kami disegenap penjuru alam dan PADA DIRI MEREKA SENDIRI, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa AL QUR’AN itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup bagi kamu bahwa sesungguhnya DIA menyaksikan SEGALA SESUATU. (QS Al Fhussilat (41) Ayat 53). Katakanlah: “TIAP-TIAP ORANG BERBUAT MENURUT KEADAANNYA MASING-MASING”, Maka TUHANMU lebih mengetahui SIAPA YANG LEBIH BENAR JALANNYA. QS Al Isr’a (17) Ayat 84) “Maka hadapkan wajahmu dengan LURUS kepada DIEN Allah: tetaplah ATAS FITRAH ALLAH yang telah MENCIPTAKAN MANUSIA MENURUT FITRAH ITU. Tidak ada perubahan atas FITRAH ALLAH. Itulah DIEN YANG LURUS, tetapi KEBANYAKAN MANUSIA TIDAK MENGETAHUI. (QS Ar Rum (30) Ayat 30).
    Seharusnya manusia yang yakin akan bertemu dengan Sang Pencipta dirinya, maka sudah sepatutnya menempuh jalan tauhid untuk mengenal diri menuju sadar diri dan menemukan fitrah diri dan seharusnya juga manusia dapat menjadi “pribadi yang sejati”, tetapi “sang pribadi sejati” hanya dapat berwujud melalui raga manusia dan jika masih ada jasad yang melekad itulah kodrat yang merupakan sifat yang melekat pada “sang pribadi sejati” sejak azali (QS 35 Ayat 11,QS 82 Ayat 6-8) serta menyandang khalifah fir Ard (QS 2 Ayat 30).
    Bukankah Tauhid itu adalah tempat duduknya ilmu, dan manusia wajib haqul yakin, bahkan ainul yakin bahwa sebenarnya Al-Qur’an adalah struktur tauhid dan Al-Qur’an adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu (QS 29 Ayat 49), agar diberi cahaya-Nya (QS 24 Ayat 34- 35), karena itu cari dan tegakkan “Alif sebagai mustaqiimmu”.
    “Sang Pribadi sejati” itu senantiasa kembali menuju fitrah (QS 30 Ayat 30) untuk menempuh jalan lurus/mustaqiim (QS 1 Ayat 6) dan “sang pribadi sejati” atau “sang urip” mula-mula hidup dalam dimensi alam spiritual, kemudian Allah tiupkan ruh kedalam jasad manusia (QS 32 Ayat 9), kemudian seiring dengan jalannya waktu sang jasad menuju bentuk yang sempurna (QS 23 Ayat 12-14) dan ketika kemanusiannya mulai matang setelah “Sang Pribadi sejati” mempunyai sandangan kehormatan yaitu nafs muthmainah (QS 89 Ayat 27 – 30) dan jiwa itupun disumpah oleh Allah tentang siapa Tuhannya (QS 7 Ayat 172) agar kelak dapat melakukan perjalanan spiritual kembali kepada Sang Pencipta “Pribadi Sejati”, yaitu Allah SWT, Pencipta Langit dan Bumi (QS 49 Ayat 15).
    Kemudian jadilah manusia terlahir ke dunia dan ketika akil baliq meneruskan risalah Adam, menelusuri jejak para nabi dan rasul dan diseru untuk mencari “jalan pulang” (QS 5 Ayat 35) dan jalan itu sesungguhnya adalah jejak nabi Muhammad menuju jejak Ibrahim (QS 22 Ayat 78) dan ketika menelusuri jejaknya, maka manusia diperintahkan Allah untuk memperhatikan ayat-ayat-Nya (QS 38 Ayat 29) dan mempergunakan akalnya (QS 10 Ayat 100) dan Allah mudahkan Al-Qur’an (QS 54 Ayat 17,22,32,40) sebagai pedoman hidup manusia (QS 45 Ayat 20, QS 3 Ayat 138) untuk pelajaran bagi manusia yang mau “belajar mati” (QS 23 Ayat 80). Akhirnya “Sang Pribadi Sejati” itu menempuh jalan pulang kembali menuju fitrahnya (QS 30 Ayat 30), oleh karena itu berwasiatlah bagi yang hidup apabila meninggalkan harta yang banyak. (QS 2 Ayat 180) dan memberikan pertanggungjawaban atas mandatnya sebagai khalifah fil ardh (QS 2 Ayat 30), agar jangan terancam menjadi manusia yang tidak sadar diri (QS 75 Ayat 26 – 35), tetapi jadilahkanlah dirimu manusia yang sadar diri menempuh jalan pulang dengan tenang (QS 89 Ayat 27 – 30) dan malaikatpun mengiringi manusia yang istiqomah (QS 41 Ayat 30,31), serta bertemu dengan sahabat “Sang Pribadi sejati”(QS 13 Ayat 11) ketika sakratul mautnya (QS 50 Ayat 16 –19, 21) dan disingkapkan matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam (QS 50 Ayat 22) dan bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri penghisab terhadap dirimu (QS 17 Ayat 13-15), maka celakalah yang catatan buku kehidupannya ”raportnya merah” (QS 18 Ayat 49) kemudian manusia memberikan kesaksiannya (QS 17 Ayat 36, QS 36 Ayat 65,QS 41 Ayat 21-22,QS 24 Ayat 24) dan ketika itu manusia menantikan kedatangan malaikat penyabut nyawa (QS 6 Ayat 156) kemudian dimatikan dan diwafatkan kamu (QS 6 Ayat 61). Baru engkau sadar sesungguhnya kamu sebelumnya hanya segumpal darah yang diletakan oleh Allah dalam rahim Ibumu (QS 76 Ayat 1 s/d 4). Sesungguhnya kasih sayang Allah sejak azali dititipkan ke dalam setiap qalbu ibumu sepanjang masa !! sesungguhnya kasih ibu sepanjang masa dan merupakan percikan dari salah satu As Ma’ul Husna, yaitu Maha Kasih Sayang atau Ar Rahman Ar Rahim, maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan ! belajarlah dari manusia Lukman Nul Hakim yang diabadikan oleh Allah SWT didalam Al-Qur’an (QS 31 Ayat 12 –19).

  7. Turiman Fachturahman Nur berkata:

    Perlunya Mengenal Struktur Al-Qur’an……………….Tambahan untuk materi dan urun rembug saudara-sudara di darul Qohar Depok
    Kehidupan alam semesta merupakan karsa penciptaan yang merupakan sintesis antara cinta kasih, akal dan sistem nilai atau hukum serta integrasi antara aspek eksistensi rendah dan tinggi. Proses perkembangan kehidupan alam semesta tidak mengeliminasi eksistensi rendah tetapi yang terjadi adalah proses transmutasi dari eksistensi rendah, baik secara evolusi maupun secara revolusi, menuju dan menjadi tingkat eksisitensi yang lebih tinggi. Proses yang demikian seharusnya menjadi acuan atau spirit manusia didalam mengaktualisasikan fitrahnya selaku wakil Tuhan di dunia atau khalifah di muka bumi (QS 2 Al Baqarah ayat 30).
    Islam yang mempunyai makna harfiah berpasrah merupakan satu-satunya cara hidup untuk mencapai keselamatan dalam arti keseluruhan, yaitu manusia dan alam. Sikap berpasrah diri terhadap Karsa, Rasa, Cipta dan Kuasa Sang Pencipta akan terjadi apabila manusia konsisten mengikuti jejak-jejak perbuatan Tuhan (sunatullah) yang dapat dipahami sebagai kehidupan alam semesta yang harmonis dan seimbang.
    Aspek keseimbangan dan keharmonisan tersebut hendaknya menjadi spirit berkegiatan manusia selain harus selalu berorientasi pada proses transmutasi seperti tersebut diatas. Dengan kata lain, sikap berpasrah diri tersebut tidak dilaksanakan secara pasif, melainkan melalui proses pencapaian kesadaran diri ke arah yang lebih tinggi. Proses tersebut dilakukan secara konsisten dan kontinyu, untuk mencapai hakikat realitas yang bersumber dan berproses dalam suatu sistem nilai yang merupakan manifestasi dari kehendak Allah, baik yang didalam maupun yang meliputi kehidupan alam semesta atau yang outer maupun yang inner Qur’ani.
    Kesediaan manusia untuk berperan sebagai wakil Tuhan di muka bumi, selain mempunyai arti, bahwa manusia mendapat kepercayaan Tuhan untuk mengatur dan mengelola dunia, juga bertanggung-jawab atas terjadinya kerusakan-kerusakan yang dapat mengancam bukan saja keharmonisan tetapi juga kelestarian kehidupan alam semesta. Tugas tersebut merupakan kepercayaan maha berat yang mahluk-mahluk lain tidak sanggup memikulnya. Pelaksanaan pengaturan dan pengelolaan tersebut seharusnya merujuk kepada sistem pengetahuan yang secara lengkap telah tersusun secara sistimatis sebagai ayat-ayat yang ada didalam Al-Qur’an (Inner Qur’ani).
    Wahyu-wahyu yang disusun secara sistematis di dalam Al-Qur’an bukan sekedar meliputi informasi-informasi yang bersifat historis normatif. Lebih dari itu, Al-Qur’an merupakan sumber pengetahuan yang peranannya sangat penting dan mutlak dan merupakan konstitusi tertinggi bagi manusia di dalam usahanya mengaktualisasikan dirinya sebagai Wakil Tuhan di bumi. Selama ini konstruksi pemahaman Al-Qur’an cenderung merujuk kepada warisan dan khasanah pemikiran masa lalu. Dengan kata lain, kaum muslimin menempatkan warisan historis sebagai referensi untuk membangun pemahaman terhadap wahyu. Hal yang demikian bukanlah salah, namun tidak mencukupi lagi. Untuk sekarang dan seterusnya diperlukan lebih dari sekedar pemahaman yang hanya bersifat normatif. Juga harus diupayakan suatu usaha untuk mentransendensikan Al-Qur’an supaya pemahamannya tidak terbatasi oleh warisan-warisan historis normatif yang tersekat-sekat oleh ajaran-ajaran dan atau doktrin-doktrin dogmatis ataupun intepretasi yang bersifat supra subyektif. Ajaran atau interpretasi yang muncul ini sering tidak bisa didialogkan atau diajarkan kepada orang yang tidak (belum) pernah mengalami.
    Al-Qur’an harus dijadikan sumber informasi, sumber data-data atau sumber ilmu pengetahuan tentang kehidupan alam semesta. Hal tersebut merupakan postulat teologis dan sekaligus teoritis. Elaborasi pada konstruksi-konstruksi teoritis Al -Qur’an inilah yang pada akhirnya merupakan perumusan-perumusan teoritis guna membangun perspektif Al-Qur’an dalam memahami realitas kehidupan. Apabila kita kembali melihat sistem pengetahuan Islam yang murni, yakni Al-Qur’an, sesungguhnya Islam mempunyai cara berfikir yang rasionalistis-empiris. Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya banyak diintervensi bahkan kadang-kadang terkesan didominasi oleh budaya magis dan mistis, sehingga diperlakukan sebagaimana layaknya gudang mantra. Oleh karena itu berkali-kali Al-Qur’an menekankan arti penting penggunaan akal pikiran dan pencarian pengetahuan melalui observasi.
    Penggunaan akal pikiran atau sikap rasionalistis memberikan kerangka pemikiran yang disiplin, kritis, sistimatis dan logis dengan logika deduktif sebagai sendi pengikatnya. Di pihak lain terdapat dunia empirik yang obyektif dan berorientasi kepada fakta sebagaimana adanya (Outer Qur’ani). Kesimpulan umum yang ditarik dari dunia empirik secara induktif merupakan batu ujian realitas dalam menerima atau menolak suatu kebenaran. Kebenaran keilmuan bukan saja merupakan kesimpulan rasional yang koheren dengan sistim pengetahuan yang berlaku, tetapi juga harus sesuai dengan kenyataan yang ada.
    Penggabungan antara rasionalisme dengan empirisme inilah yang kemudian disebut sebagai metoda keilmuan. Metoda inilah yang membedakan antara ilmu dengan buah pikiran. Dengan kata lain, ilmu adalah pengetahuan yang diperoleh dengan menerapkan metoda keilmuan. Dengan demikian hakekat keilmuan ditentukan oleh cara berfikir yang dilakukan menurut persyaratan-persyaratan keilmuan. Hal ini perlu diungkapkan agar kesadaran kita tergugah untuk tidak menempatkan wahyu atau ilmu pada struktur feodalisme terselubung yang akhirnya hanya menghasilkan fanatisme terhadap (faham-faham) individu ataupun kelompok yang mengakibatkan umat terpecah belah dan bangga terhadap kelompoknya, QS 30 ayat 30-32. Namun satu hal yang jangan sampai dilupakan pada tahap mengaktualisasikan kebenaran rasional tersebut dalam kawasan empirik yang dibutuhkan bukan sekedar kebenaran rasional melainkan ketepatan dalam mengaktualisasikannya.
    Adanya perbedaan sistim nilai pada ruang yang berbeda merupakan fakta yang tidak bisa di abaikan. Proses penghayatan tersebut mutlak diperlukan karena kebenaran tersebut masih harus dan perlu diuji untuk memastikan ketepatan aplikasinya di dalam wilayah empiris.
    Ilmu bersifat terbuka, demokratis dan menjunjung tinggi kebenaran serta ketepatan pelaksanaannya. Penggunaan metoda keilmuan secara dinamis akan menghasilkan pengetahuan yang konsisten, sistimatis serta dapat diandalkan. Sebab, pengetahuan yang dihasilkan telah teruji secara sistimatis. Kebenaran keilmuan baru bisa dikatakan sah apabila pernyataan yang dibuat dalam rangka kegiatan keilmuan itu dapat diterima setelah melalui pengujian secara empirik yang pada hakekatnya merupakan wasit di dalam gimnastik berfikir.
    Seperti yang pernah dikatakan oleh Ilmuwan Albert Einstein, bahwa ilmu dimulai dari fakta dan diakhiri dengan fakta apapun juga teori yang disusun di antara mereka. Pernyataan tersebut sangat membantu dalam hal memahami wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad S.A.W. berupa perintah “Baca”. Perintah tersebut pada dasarnya merupakan rangkaian aktivitas yang meliputi tindakan melihat, mengamati, mencermati, memahami dan menghayati serangkaian fakta atau fenomena yang ada. Fakta-fakta dan fenomena-fenomena ini selanjutnya digunakan untuk mempelajari sunatullah yang tertulis dan tersebar dalam segala peristiwa untuk kemudian diamalkan sebagai tindakan nyata dalam wilayah empirik. Sejak dimulainya aktivitas melihat sampai dengan aktivitas penghayatan merupakan tindakan yang bersifat rasional. Sedangkan aktivitas pengamalan merupakan tindakan empiris karena merupakan pengujian dalam memastikan kebenaran yang diperoleh pada tahapan tindakan rasionalistis.
    Aktivitas yang terjadi didalam tahapan rasionalistis pada dasarnya adalah proses dialog atau dengan kata lain makna dari perintah “Baca” pada dasarnya merupakan proses dialogis antara “Pembaca” dengan “Penulis” sunatullah yang tersebar di segenap penjuru alam. Dalam proses dialog tidak tertutup kemungkinan munculnya pertanyaan-pertanyaan yang kongkrit, riil dan kontekstual mengingat kehidupan manusia itu berkembang secara dinamis. Adanya pembakuan terhadap metoda dialog seperti yang selama ini banyak terjadi, merupakan pemasungan terhadap kehendak berfikir rasionalistis, kreatif dan dinamis. Sehingga, hasil dialog menjadi tidak realistis lagi pada saat dilakukan pengujian dalam dunia empirik.
    Keterpisahan antara hasil dialog dengan realita dapat melahirkan sikap inferioriti komplek, ketidak percayaan diri, yang kemudian terlihat sebagai sikap defensif, sombong dan ketakutan yang pada saatnya menutup kemungkinan dibuatnya perbedaan antara gagasan dan realitas. Akhirnya, yang muncul adalah tipe manusia yang selalu ketinggalan atau bahkan gagal dalam usaha pencapaian karena adanya stagnasi pemahaman. Tipe-tipe manusia yang demikian cenderung untuk menjadi eksklusif ataupun ekstrim. Seseorang tidak akan menjadi kreatif apabila dia tidak menganggap penting atau perlu adanya konflik antara hasil pemikiran rasional dengan realita. Masalah yang akan selalu timbul adalah bagaimana menjadikan wahyu sebagai sumber informasi atau pengetahuan yang mampu mengatasi segala permasalahan kehidupan untuk mencapai keharmonisan dengan ruang dan waktu tertentu tanpa melupakan asal-usulnya yang suci dan tak terciptakan.
    Rasionalitas manusia maupun dunia realita terus berkembang secara dinamis dan semakin komplek. Untuk itu dibutuhkan kesadaran untuk mengembangkan metoda dialog dan juga metoda keilmuan secara kontinyu dan konsisten. Peringatan-peringatan tentang pentingnya kontinyuitas pengembangan metoda dialog, secara tersirat dapat dilihat pada: QS.2 Al Baqarah: 170; “Dan bila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah peraturan-peraturan yang telah diturunkan Allah!” Mereka menjawah: Tidak! kami hanya mau mengikuti apa-apa kebiasaan yang telah kami dapati dari nenek moyang kami. Apakah akan diikuti juga walaupun nenek moyang mereka ini tidak mengetahui suatu apapun juga, dan tidak pula mendapat petunjuk Tuhan?” QS Al-Baqarah (2) Ayat 171; “Dan perumpamaan orang kafir itu, seperti binatang ternak yang patuh kepada penggembala yang memanggilnya, karena kebiasaan saja. Dia tidak mendengar apa-apa kecuali suara panggilan dan himbauan belaka, tanpa mengerti isi panggilan itu. Mereka tuli, bisu dan buta, karena mereka tidak mengerti”. QS Al-Ma’idah (5) Ayat 104; “Apabila dikatakan kepada mereka: “Turutlah apa yang diturunkan Allah dalam Al-Qur’an dan turut pulalah Rasul yang menyampaikannya”. Mereka menjawah: “Cukuplah bagi kami menurutkan kebiasaan yang telah kami dapati dari nenek moyang kami”. Apakah mereka akan turunkan juga walaupun nenek moyang mereka tidak mengetahui apa-apa tentangsyariat dan tidak mendapat petunjuk kejalan kemaslahatan?” QS Luqman (31) Ayat 21; “Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diturunkan oleh Allah!” Mereka menjawab: “Tidak! Kami hanya akan mengikuti apa yang telah kami dapati dari para nenek moyang kami! Apakah mereka akan mengikuti juga sekalipun paran nenek moyang mereka itu dibawa terlibat oleh setan ke dalam siksa api Neraka?
    Ayat-ayat peringatan tersebut menunjukkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi dinamika perkembangan ilmu pengetahuan. Terhadap umatnya dituntut untuk selalu mengembangkan pola pemikiran ataupun metoda keilmuan di dalam usahanya menggali keilmuan yang terdapat di dalam Al-Qur’an agar tidak terjadi stagnasi pemahaman yang selanjutnya berakibat pula pada macetnya perkembangan peradaban kehidupan umat Islam sendiri. Tindakan anti dialog yang dilakukan dalam bentuk pemasungan terhadap sikap-sikap kritis dan rasionalistis, merupakan pengingkaran dan sekaligus tidak menunjukkan rasa syukur terhadap anugerah Tuhan yang tidak diberikan kepada ciptaanNya yang manapun juga, yaitu kemampuan berkesadaran atau mengaktualisasikan ESQ (Emosional, Spiritual Quotient) dalam total action (kiprah kehidupannya).
    Kebebasan mengaktualisasikan diri sesuai dengan posisinya merupakan monopoli manusia yang diberikan Tuhan sesuai dengan posisi manusia sebagai wakil Tuhan. Kesadaran manusia sebagai wakil Tuhan merupakan kesadaran yang meliputi peran dan fungsinya sebagai mahluk bebas yang mampu menemukan esensi diri. Penempatan diri seseorang pada posisi dan proporsi dalam struktur realita akan mampu menempatkan dirinya sesuai dengan harkat dalam melaksanakan fungsi kemanusiaannya. Sedangkan sikap rasionalistis-empirik manusia pada hakekatnya merupakan refleksi kemanusiaan seorang wakil Tuhan. Merupakan suatu kemustahilan bagi seseorang yang tidak mau berfikir untuk mampu menunaikan tugasnya sebagai wakil Tuhan, yang mampu mengatur dan mengelola kelestarian alam semesta dan sekaligus meningkatkan harkat dan martabat manusia balk secara tehnis maupun moralitas dalam mengatasi permasalahan sosial serta ekologis. Berdasarkan hal-hal tersebut dan juga mengingat adanya faktor tanggung jawab sebagai konsekuensi logis dari faktor kebebasan yang dianugerahkan Allah kepada manusia, maka sungguh tepat peringatan Allah kepada manusia seperti yang tertulis sebagai berikut: QS Al-Israa'(17) Ayat 36: “Dan janganlah engkau turut apa-apa yang engkau tidak ada ilmu padanya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan ditanya”.
    Dan terhadap orang yang tidak mau berfikir Tuhan memberikan penilaiannya sebagaimana yang tertulis dalam ayat berikut: QS.Al-Anfaal(8)Ayat 22: “Sesungguhnya hewan yang paling buruk menurut pandangan Allah, adalah orang-orang yang pekak dan bisu, karena mereka tidak mengerti apa-apa”.
    Dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan, Nabi Muhammad SAW. juga memberikan peringatan yang keras kepada kaum muslimin agar tidak merasa sudah tahu sehingga bertindak seperti keledai yang membawa-bawa kitab. Cita-cita Al- Qur’an mengenai kehidupan manusia bersifat spiritual, yaitu untuk mendapatkan ridha Allah. Oleh karena itu, apapun kegiatan manusia di dunia ini tidak boleh terlepas dari tugasnya sebagai wakil Tuhan (Allah SWT) di dunia yang harus mengatur dan mengelola dunia ini agar sesuai dengan kehendak-Nya.
    Diletakkannya ilmu pengetahuan dalam posisi yang penting, merupakan penjelasan terhadap misi Islam yang paling besar mengenai manusia dan cita-cita kemanusiaan, yaitu pembebasan. Di dalam dunia modern, Islam harus mampu membebaskan manusia dari kungkungan aliran pikiran dan filsafat yang menganggap manusia tidak mempunyai kebebasan dan hidup dalam alam absurditas. Sebab sejak jaman modern, yaitu sejak manusia mengalami revolusi pengembangan rasionalitasnya, manusia telah mampu membebaskan dirinya dari belenggu-belenggu pemikiran mistis ataupun sistem nilai atau hukum yang memasung, gerak dan sangat membatasi kebebasannya. Namun ironisnya justru pada jaman modern seperti sekarang ini masih terdapat sebagian dari manusia yang belum dapat melepaskan diri dari belenggu lain yaitu belenggu yang dibuatnya untuk membelenggu pikirannya sendiri yang kemudian menghasilkan sikap pemujaan atau penyembahan terhadap diri ataupun kelompoknya sendiri.
    Kehidupan manusia dan kemanusiaannya berkembang terus secara dinamis sehingga seluruh aspek kehidupan juga ikut berkembang menjadi semakin komplek. Menghadapi kenyataan ini maka mutlak dibutuhkan suatu usaha untuk menyempurnakan metoda keilmuan yang telah ada secara terus menerus untuk mencari pengetahuan mengenai segi-segi yang belum tercakup dalam kegiatan keilmuan yang sudah ada. Hal ini mutlak penting sebab dalam ruang lingkup empiris-pun masih terdapat banyak sekali segi-segi kehidupan yang belum terjangkau oleh ilmu pengetahuan.
    Penjelajahan mengenai manusia dan kehidupannya masih berada pada tahap yang awal sekali. Mungkin setelah mereguk dengan puas keilmuan mengenai manusia dan kehidupannya, baik yang ada dalam Al-Qur’an maupun yang ada di dunia empirik, akan menjadi semakin lebih baik lagi apabila kita selalu ingat akan peringatan Doktor Faust kepada mereka yang belajar tentang manusia dan kemanusiaannya: “Nah, si tolol yang malang, dengan segenap pengetahuanmu engkau tetaplah menjadi si goblok seperti sebelumnya…”
    Mempelajari sejarah perjalanan para nabi-nabi pada dasarnya kita mempelajari proses perkembangan peradaban manusia. Tinggi rendahnya suatu peradaban identik dengan tinggi rendahnya penguasaan ilmu pengetahuan oleh manusia pada masa yang bersangkutan. Yang dimaksud dengan ilmu pengetahuan disini bukanlah sekedar hasil aktivitas nalar dan panca-indera saja, tetapi lebih daripada itu. Panca indera seringkali menyesatkan manusia dalam upayanya mencari kebenaran. Ada keterbatasan pada panca-indera maupun kapasitas otak manusia sedangkan pada sisi lain aspek kehidupan secara keseluruhan adalah sedemikian kompleks dan tidak semata bersifat empiris. Bahkan dalam kawasan empirispun masih banyak hal-hal yang belum bisa dijangkau ilmu pengetahuan. Menghadapi hal yang demikian dibutuhkan sikap kearifan untuk secara sadar bersifat terbuka terhadap keberadaan metoda-metoda lain yang bisa dipergunakan untuk lebih melengkapi metoda yang sudah ada.
    Kemajuan di bidang keilmuan sering terjadi karena adanya usaha merumuskan kembali masalah lama dalam perumusan baru dalam usahanya mencari pemahaman dan pemecahan masalah secara lebih baik. Salah satu cara yang biasanya dilakukan dalam merumuskan masalah adalah melalui persepsi atau interpretasi terhadap masalah yang akan dikaji untuk mendapatkan pemecahan yang lebih baik. Mengingat bahwa kehidupan manusia berkembang terus secara dinamis dan kompleks maka interpretasi ulang terhadap pengetahuan tentang kehidupan yang bersumber darinya juga harus dilakukan secara terus menerus agar menjadi realistis.
    Sebuah masalah keilmuan harus dapat dirumuskan sedemikian rupa sehingga pengumpulan data dapat dilakukan secara obyektif. Artinya bahwa data yang akan digunakan untuk analisa keilmuan harus nyata atau secara potensial ada dan tidak ditentukan/berhubungan dengan karakteristik individual atau kelompok tertentu.
    Upaya penyusunan struktur adalah untuk mempermudah melihat permasalahan secara obyektif dan proporsional. Selain itu dengan terbentuknya struktur penentuan data-data yang dibutuhkan untuk keperluan analisa dapat lebih dipertanggung-jawabkan obyektifitasnya, sehingga perumusan masalah menjadi lebih realistis. Sesuai dengan sifatnya yang universal, maka perumusan masalah kehidupan (melalui Al-Qur’an) harus dilakukan secara mendasar dan umum. Untuk itu yang perlu dilakukan terlebih dahulu adalah memahami predikatnya sebagai pedoman hidup seluruh manusia.
    Kembali kepada fungsinya sebagai pedoman hidup manusia, di dalam Al Qur’an cukup banyak ayat-ayat yang menyebutkan fungsi tersebut. Selain itu banyak pula ayat-ayat yang menganjurkan manusia untuk senantiasa melakukan observasi maupun studi eksplorasi terhadap keilmuan yang ada di dalamnya guna meningkatkan keimanan dan ketakwaannya terhadap Allah. Sebagai pedoman hidup, Al-Qur’an dikatakan sudah sempurna sehingga tidak akan pernah selesai dieksplorasi selama kehidupan semesta masih ada. Konsekwensi logis dari statement tersebut adalah bahwa dari komponen-komponen yang ada di dalam Al-Qur’an, dapat dibuat suatu formulasi umum tentang kehidupan semesta alam. Formula tersebut harus mampu menjelaskan seluruh aspek-aspek kehidupan yang ada serta hubungan dari seluruh aspek yang terkait satu sama lainnya, Aspek-aspek kehidupan yang di maksud tersebut dapat digolongkan menjadi 3 kelompok besar, yaitu :
    Aspek pelaktu utama kehidupan, yaitu manusia dengan peran tunggalnya sebagai wakil Tuhan di dunia yang mempunyai tugas sebagai pengatur dan pengelola alam semesta untuk menjaga bukan saja kelestarian spesiesnya sendiri tetapi juga kelestarian isi alam lainnya. Peran dan fungsi tersebut bukan sekedar hanya menghidupkan dan menghidupi diri atau spesiesnya sendiri tetapi juga terhadap penghuni alam semesta lainnya, baik itu tumbuhan maupun binatang.
    Aspek ruang di mana proses kehidupan berlangsung, yaitu alam lengkap dengan segala kehidupan yang ada di dalamnya. Pengertian alam disini adalah seluruh aspek kehidupan yang terkait dan mendukung kehidupan manusia, baik secara pribadi maupun keseluruhan, baik secara langsung maupun tidak langsung.
    Aspek permasalahan yang timbul karena adanya interaksi antara manusia dengan sesamanya ataupun antara manusia dengan alam. Masalah-masalah tersebut dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu:
    a. Masalah manusia dengan dirinya sendiri (sebagai mahluk individual).
    b. Masalah manusia dengan sesamanya (sebagai mahluk sosial).
    c. Masalah manusia dengan alam (sebagai salah satu variabel dari ekosistem).
    Apa yang telah disebutkan secara sederhana seperti tersebut diatas secara tersirat dapat dipahami sebagai penjelasan dari ayat-ayat berikut: QS. Al Fussilat (41)Ayat 53: “Akan Kami perlihatkan kepada mereka kekuasaan Kami yang ada di segenap penjuru alam dan pada dirinya sendiri, sehingga jelas bagi mereka bahwa yang Kami wahyukan itu adalah benar. Belumkah cukup bahwa Tuhanmu menyaksikan segala-galanya ?” QS Adz Dzaariyat (51) Ayat 20: “Dan bagi orang-orang yang yakin, di muka bumi terdapat tanda-tanda kekuasaan Tuhan”. QS Adz Dzaariyaat (51) Ayat 21; “Dan pada dirimu sendiri tanda-tanda kekuasaan Tuhan itu tidakkah kamu perhatikan ?”
    Dari ke 3 (tiga) ayat tersebut dapat diambil pengertian sebagai berikut : Ayat-ayat atau dalil-dalil kekuasaan atau sering disebut sebagai sunatullah, secara tekstual dapat di temukan di dalam kitab, namun essensi dari ayat-ayat adalah seluruh phenomena atau fakta-fakta yang ada dan tersebar secara luas diseluruh penjuru kawasan realitas. Bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat 2 (dua) kelompok ayat-ayat, dimana kelompok pertama menjelaskan tentang phenomena alam sedangkan kelompok kedua menjelaskan tentang diri manusia.
    Dari yang pertama, selain mengisyaratkan sifat universalitas Al-Qur’an yang menuntut keterbukaan sikap terhadap perbedaan, juga menjelaskan tentang konsep laku yang berorientasi kepada keseimbangan laku untuk mencapai kehidupan yang harmonis dengan alam semesta. Perilaku keseimbangan yang dimaksud disini adalah keseimbangan fungsional antara manusia sebagai pribadi, sebagai mahluk sosial ataupun sebagai salah satu mata rantai dari kehidupan alam semesta di satu sisi dengan kehidupan alam semesta pada sisi yang lain. Untuk itu yang perlu dipahami bukan saja kaitan antara manusia dengan sesamanya tetapi juga antara manusia dengan alam.
    Yang kedua, berdasarkan fakta yang ada di dalam Al-Qur’an dan dengan logika yang sederhana dapatlah diketahui bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat 2 (dua) kelompok struktur yaitu Surah dan Al Juz. Terdapat perbedaan yang mendasar sekali diantara keduanya, yakni surah mempunyai judul sedangkan Al Juz tidak berjudul. Selama ini judul surah selalu tidak mempunyai peran apa-apa terhadap ayat- ayat yang ada di dalam surat yang bersangkutan, selain hanya dipakai sebagai indikator darimana ayat yang bersangkutan diambil. Padahal judul tidak ada bedanya dengan nama, yakni mewakili suatu pengertian tertentu dari yang diberi judul. Peran penting sebuah judul atau nama dapat dilihat secara jelas pada ayat-ayat sebagai berikut: QS Al Baqarah (2) Ayat 31: “Allah mengajarkan kepada Adam seluruh nama-nama Benda, kemudian Allah menampilkannya kepada malaikat, lalu berfirman: Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda ini, jika kamu memang benar!” QS. Al Baqarah (2) Ayat 32: “Para malaikat menjawab: Maha Suci Engkau ya Allah, kami tidak mempunyai ilmu, hanya terbatas sepanjang yang pernah Engkau ajarkan kepada kami saja. Sesungguhnya Engkau Maha Tahu dan Bijaksana” QS Al Baqarah (2)Ayat 33: “Allah berfirman: Hai Adam! Sebutkanlah kepada mereka nama-nama benda ini! Setelah Adam menyebutkan nama semua benda-benda Allah berfirman: Bukankah sudah Ku-katakan kepadamu, bahwa Aku mengetahui apa-apa yang tersembunyi di langit dan di bumi dan Ku-ketahui juga apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan”.
    Analisa terhadap setiap judul dari 114 surah diperoleh kesimpulan bahwa surah menjelaskan fakta-fakta atau phenomena alam, konsekwensi langsungnya adalah manusia dijelaskan oleh Al Juz. Bahwa analisa terhadap setiap judul surah mengarah kepada phenomena alam dapat dilihat pada contoh-contoh dibawah ini:

    • Yang menunjuk kepada keberadaan manusia. QS.76 Ad Dahri (Manusia)
    QS.114 An Naas (Manusia)
    • Manusia dengan aspek kelaki-lakiannya. QS.3 Ali Imran (Keluarga Imran)
    QS.3 1 Luqman (Lukman)
    • Manusia dengan aspek keperempuannya QS.4 An Nisa (Wanita)
    QS.19 Maryam (Maryam)
    QS.58 Al Mujidallah (Wanita Pendebat)
    QS.60 Al Mumtahanah (Wanita Yang diuji)
    • Manusia dengan aspek kenabiannya. QS.10 Yunus (Nabi Yunus)
    QS.11 Huud (Nabi Huud)
    QS.12 Yusuf (Nabi Yusuf)
    QS.14 Ibrahiim (Nabi Ibrahim)
    QS.21 Al Anbiyaa (Para Nabi)
    QS.47 Muhammad (Nabi Muhammad)
    QS.71 Nuh (Nabi Nuh)

    • Manusia dengan aspek kehidupan sosialnya QS. 17 Al Isr’a (Perjalanan malam hari)
    QS.34 Sabaa (Kaum Saba)
    QS.30 Ar Ruum (Bangsa Rum)
    QS.67 Al Mulk (Kerajaan)
    QS.90 Al Balad (Negeri)
    QS.106 Al Quraisy (Suku Qurais)

    • Manusia dengan aspek perilakunya. QS.23 Al-Mu’minun (Orang-Orang Beriman)
    QS.26 Asy Syu’araa (Para Penyair)
    QS.40 Al Mu’min (Mukmin)
    QS.42 Asy Syuraa (Musyawarah)
    QS.45 Al Jassiyah (Yang Bertekuk Lutut)
    QS.59 Al Hasyr (Pengusiran)
    QS.83 Al Muthafifin (Orang-orang Yang Curang)
    QS.102 At Takatsuur (Bermegah-Megahan)
    QS.109 Al Kafiruun (Orang-Orang Kafir)

    Aspek lingkungan atau alam
    • Batuan / Tanah QS.15 Al Hijr (Batu)

    • Pasir QS.46 Al Ahqaaf (Bukit Pasir)

    • Gunung QS.52 Ath Thuur (Bukit Tursina)

    • Kejadian alam QS.13 Ar Ra’du (Guruh)
    QS.51 Adz Dzaariyat (Angin Yang Menerbangkan

    • Benda-benda langit QS.53 An Najm (Bintang)
    QS.54 Al Qamar (Bulan)
    QS.85 Al Buruj (Gugusan Bintang/Galaxy)
    QS.91 Asy Syams (Mayahari)

    • Tanaman QS.95 At Tiin (Buah Tiin)

    • Binatang QS.2 Al Baqarah (Sapi Betina)
    QS.6 Al An’aam (Binatang Ternak)
    QS 16 An Nahl (Lebah)
    QS.27 An Naml (Semut)
    QS.29 Al Ankabut (Laba-Laba)
    QS.100 Al ‘Aadiyat (Kuda Yang Berlari Kencang)
    QS.105 Al Fil (Gajah)
    • Waktu QS.89 Al Fajr (Waktu Fajar)
    QS.92 Al Lail (Malam)
    QS.93 Adh Dhuha (Waktu Dhuha)
    QS.103 Al Ashr (Waktu Ashar)
    QS.113 Al Falaq (Waktu Subuh)
    • Api QS.111 Al Lahab (Gejolak Api)
    • Keghaiban QS.77 Al Mursalat (Malaikat-Malaikat Yang diutus)
    QS.79 An Naziat (Malaikat-Malaikat yang mencabut)
    QS.72 Al Jin (Jin)
    • Dan seterusnya

    Berdasarkan informasi nomenklatur (judul) surah tersebut diatas maka Al-Qur’an merupakan sumber ilmu pengetahuan tentang alam semesta atau cetak biru alam semesta (Blueprint) secara keseluruhan. Al-Qur’an adalah bahasa kode, oleh karena itu manusia diperintahkan untuk membaca dan memahami kode-kode tersebut di segala penjuru alam dan pada diri manusia, misalnya di Al-Qur’an ada surah bernama An-Najm artinya bintang, yaitu surah bernomor 53, pertanyaanya dapatkah manusia melihat bintang dalam mushaf Al-Qur’an, jelas tidak tentunya ia harus melihat di langit pada malam hari, demikian juga ketika di dalam Al-Qur’an ada surah bernama semut, yaitu surah bernomor 27, apakah manusia dapat melihat semut di dalam mushfat Al-Qur’an, tentu tidak, ia harus melihat semut di alam. Sebagai kitab yang merupakan sumber segala ilmu pengetahuan, penyusunan materinya bisa dipastikan disusun berdasarkan atas struktur ataupun sistimatika yang tertentu. Karena tanpa struktur yang jelas sulit sekali melakukan identifikasi komponen-komponen penyusunnya secara obyektif dan dengan demikian perumusan permasalahannya juga mengalami hal yang sama. Ada 2 (dua) ayat yang secara jelas menyatakan bahwa Al- Qur’an disusun menurut kaidah-kaidah penyusunan ilmu pengetahuan: QS An-Nisaa(4)Ayat 166: “Mereka tidak mau peduli kepada apa yang diturunkan kepadamu itu, namun Allah telah menjadi saksi alas kebenaran Al-Qur’an yang diturunkan kepadamu. Tuhan menurunkannya dengan perhitungan ilmu-Nya, sedangkan Malaikat turut menyaksikan. Cukuplah Allah yang mengakuinya”. QS Al A’raaf(7) Ayat 52: “Sesunggulmya telah Kami datangkan sebuah Kitab kepada mereka. Kami jelaskan alas dasar-dasar ilmu pengetahuan dari Kami sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman ”
    Ilmu merupakan suatu sistim kebenaran, Al-Qur’an sebagai sebuah sistem, komponen-komponen yang ada di dalamnya telah disusun secara struktural sehingga mempermudah siapa saja yang ingin mempelajarinya. Posisi komponen-komponen merupakan indikator atau menjelaskan peran dan fungsi komponen-komponen yang bersangkutan di dalam struktur. Komponen-komponen atau sering dikenal sebagai variabel/parameter keberadaannya dinyatakan secara jelas dalam QS.54 Al Qamar: 49; “Segala sesuatu Aku ciptakan serba berukuran” Indikator yang terukur adalah parameter.
    Adanya pengukuran-pengukuran terhadap setiap indikator mengakibatkan adanya keteraturan format. Al-Qur’an yang menjadi obyek study metoda ini formatnya sangat teratur dan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
    1. Terdiri dari 30 Al Juz, dimana setiap Al Juz terdiri dari 16 halaman dan awal Al Juz selalu dimulai dari halaman sebelah kiri.
    2. Ayat pertama atau sebagian dari ayat pertama Al Juz huruf-hurufnya ada yang dicetak tebal.
    3. Tidak ada ayat yang terpotong oleh halaman
    4. Terdiri atas 114 Surat, 6236 Ayat, 558 Tanda Ruku’.
    5. Terdiri atas 485 Halaman dimana setiap halaman terdiri dari 18 Baris.
    6. Halaman dua (2) dan-halaman tiga (3) format barisnya berbeda dengan halaman-halaman lainnya dan pada halaman satu (1 ) angka yang menunjukkan halamannya tidak ditulis .
    Dengan melakukan pengamatan seksama dan obyektip terhadap keteraturan format Al-Qur’an maka variabel-variabel pembentuk struktur Al-Qur’an dapat disebutkan sebagai berikut:
    1. Al Juz / Juz
    2. Surat
    3. Ayat
    4. Kata
    5. Huruf
    6. Angka
    7. Tanda Ruku’
    8. Halaman
    9. Baris
    10. Tanda Baca
    Mengingat bahwa pada dasarnva fungsi mathematik merupakan abstraksi dari struktur, maka untuk keperluan analisa struktur Al-Qur’an ditransformasikan kedalam bentuk Fungsi Mathematis, Kata “matematika” berasal dari kata μάθημα (máthema) dalam bahasa Yunani yang diartikan sebagai “sains, ilmu pengetahuan, atau belajar” juga μαθηματικός (mathematikós) yang diartikan sebagai “suka belajar” (Prof .Dr Ad Difa, Ali Abdullah, Ilmu-Ilmu Matematika dalam Perabadaban Islam 29 September 1994)
    Kajian Struktur Al-Qur’an Digital berdasarkan MSFQ memberikan gambaran bahwa sesungguhnya di dalam Al-Quran terkandung rahasia-rahasia yang harus dipikirkan oleh umat manusia. Salah satunya adalah rahasia Struktur Angka dalam Struktur Al-Quran, Contoh : Angka 0123456789 = 45 (0 + 1 + 2 + 3 + 4 + 5 + 6 +7+8+9) Apa makna bilangan/angka 45 ? bukankah Surah ke 45 bernama AL- JASSIYAH (Yang Bertekuk Lutut) 45 = 9 (4+5) Surah ke 9 bernama At-Taubah (Pengampunan) Apa yang dilakukan manusia beriman dalam keadaan bertekuk lutut? sedang bertobatkah ? “Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS At- Taubah (9) ayat 27)
    Dan Al-Qur’an setelah ditransformasikan kedalam fungsi mathematik bentuk strukturnya menjadi sebagai berikut:

    Fungsi Mathematik

    Y= F(x1;x2;x3;…….;xn)
    Y: dependent variable (perubah gayut)
    X: independent variable (perubah bebas)

    Struktur Al Qur’an.
    Al-Qur’an = F ( Juz; Surat; Ayat; Kata; Huruf; Angka; Tanda Ruku’; Halaman; Baris; Tanda Baca ).
    Al Qur’an sebagai dependent variable, sedangkan Juz; Surah sampai dengan Tanda Baca merupakan independent variable.

    Transformasi bentuk tersebut sangat memungkinkan mengingat, bahwa selain fungsi matematik merupakan abstraksi dari bangunan suatu struktur, juga dengan bangunan tersebut variabel-variabelnya sekaligus dapat terlihat secara jelas. Hal tersebut sangat membantu sekali dalam melihat hubungan (korelasi) atau munasabah yang terjadi antara masing-masing variabel. Sehubungan dengan aktualisasi kebenaran rasional dalam kawasan empirik ada satu hal yang harus di perhatikan yaitu masalah ketepatannya, bukan lagi kebenaran.
    Ketepatan tersebut di tuntut mengingat adanya perbedaan-perbedaan yang ada dalam realitas dan sangat berpengaruh terhadap kualitas pola pikir dan kegiatan kehidupan manusia. Aspek-aspek yang menyebabkan timbulnya perbedaan tersebut jumlahnya banyak sekali, di antaranya dapat disebutkan sebagai kondisi geografis, sistim nilai dan budaya dan lain sebagainya. Keberadaan ancaman tersebut secara jelas dapat diketemukan pada ayat berikut: QS Al Hujura (49) ayat 13: “Hai manusia! Kami menciptakanmu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Yang teramat mulia di antaramu di sisi Allah, adalah orang yang lebih bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Mengenal”.
    Ayat tersebut di atas secara tersirat mengakui adanya perbedaan dalam sistim nilai dan budaya yang pada hakekatnya merupakan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap gejala sosial. Keberadaan faktor-faktor tersebut sangat besar jumlahnya dan kompleks, tetapi walaupun ada perbedaan sesungguhnya berasal dari satu diri, coba renungkan dengan kecerdasan manusia Surah ke 4 An-Nisaa ayat 1 : ”Hai manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya, Allah menciptakan isterinya dan daripada keduanya Allah mengembangbiakan laki-laki dan perempuan yang banyak, Dan bertaqwa kepada Allah yang (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. Ayat ini memberikan sebuah pesan hadirnya sebuah konstruksi sunatullah tentang manusia berdasarkan Al-Qur’an yang berbanding lurus dengan konsep alam raya yang terus bergerak, ingat teori Big Bang.
    Interaksi antara faktor-faktor tersebut sangat dinamis dan berubah terus setiap waktu. Kondisi yang demikian membuat kehidupan manusia sangat berbeda dengan kehidupan mahluk lainnya. Kehidupan manusia adalah kehidupan yang dinamis bukan kehidupan yang statis. Dengan kondisi kehidupan yang dinamis dan kompleks maka manusia menjadi mahluk hidup yang tumbuh dan berkembang dengan dinamis pula. Keberagaman atau perbedaan tetap harus dikembangkan, sebab tanpa ada perbedaan bisa dipastikan yang muncul adalah kondisi yang statis, selanjutnya perkembangan hanyalah merupakan angan-angan kosong. Selain itu perbedaan juga merupakan manifestasi dari kehendak bebas manusia selain merupakan hakekat dari penciptaan alam semesta. Oleh karena itu dapat di simpulkan bahwa struktur semesta alam ini di bangun di atas konsep perbedaan. “Katakanlah” Tiap-tiap manusia berbuat menurut keadaannya masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya (QS Al Is’ra (17) Ayat 84)” Oleh karena itu perlunya eksplorasi Al-Qur’an bukan hanya sekedar dibaca, agar kita mengetahui mengapa manusia berbuat menurut keadaannyan masing-masing, itulah karakter dasar manusia yang terwakili oleh JUZDIRI. Masing-masing.

    15. Keilmuan Al-Qur’an berdasarkan Metode Struktur dan Format Al Quran atau MSFQ
    Selama kurun waktu lebih dari 13 tahun (1983-1996), Bapak K.H Lukman AQ Soemabrata menggali sebuah bentuk keilmuan yang disebut-nya “Keilmuan Al-Quran”. Menarik pula untuk diketahui alasan beliau bersedia selama sekian tahun bersusah-payah “membolakbalik” dan merenungi Al-Quran, bahkan masih terus berlanjut hingga sekarang oleh para penerusnya. Bahwa Al-Qur”an adalah petunjuk bagi manusia dan kitab suci bagi umat Islam, adalah keyakinan yang secara terus-menerus ditanamkan sedari kecil. Namun, sesungguhnya keyakinan adalah hasil dan penentuan sikap secara mandiri, sebab keyakinan tidak bisa diwariskan atau diwarisi begitu saja. Jadi mesti ada kesadaran untuk membangun keyakinan. Tanpa itu, kita hanya “yakin” karena kata orang kita harus yakin.
    Bapak Al Marhum K.H Lukman AQ Soemabrata dilahirkan di dalam keluarga yang menanamkan kebiasaan mengaji A1-Quran kepada anggota keluarga sejak masih kanak-kanak. Pernyataan bahwa Al-Qur”an adalah sumber dari segala ilmu sudah menjadi kata-kata klasik baginya, sudah terlalu sering terdengar. Bagi beliau, persoalannya adalah dimanakah letak dan bagaimanakah bentuk atau, bagaimanakah kita dapat mengetahuinya?
    Dalam proses pencarian keilmuan Al-Quran, beliau pernah melakukan membaca beberapa amalan tertentu. Konon bila bacaan tertentu dibaca sekian kali perhari selama sekian waktu maka akan demikian, dan sebagainya. Akhirnya beliau merasa tersadar, dan timbullah berbagai pertanyaan dalam dirinya. Kenapa bacaan yang ini musti dibaca sekian kali, sedang yang itu harus sekian kali? Kenapa jumlah pembacaannya bisa berbeda? Kenapa surah tertentu dibaca sekian ribu kali, sementara tiada ayat Al-Qur’an yang langsung menyatakan bahwa surah itu harus dibaca sekian ribu kali? Bila amalan-amalan tersebut memang asal-muasalnya bersumber dan Al-Qur’an, termasuk pula cara menentukan jumlah pembacaan yang sekian ribu kali itu, pastilah ada suatu “rumusan tertentu” yang mendasari. Pastilah ada ilmunya, yang berarti ada pula metode keilmuannya.
    Tergerak oleh kebutuhan untuk memperoleh jawaban atas berbagai pertanyaan yang menyelimuti dirinya, maka dimulailah usaha pencarian jawaban dengan bertanya kian-kemari kepada orang-orang yang dinilai bisa memberi jawaban, namun jawabanjawaban yang diperoleh ternyata kurang memuaskan bagi beliau. Meskipun jawaban-jawaban itu terasa kurang memuaskan, tetapi kelak terbukti bermanfaat ketika beliau memutuskan untuk mencoba menggali sendiri secara mendalam.
    Setelah sekian tahun dengan keras berusaha secara bersungguh-sungguh, beliau berhasil memperoleh Ilmu Al-Qur’an. Ketika beliau ditanya oleh seseorang tentang seberapa banyak Ilmu Al-Qur’an yang diperolehnya, beliaupun menjawab dengan ungkapan beliau sendiri : “Jangankan semua huruf, setengah Alif-pun belum tentu tamat”. Itulah anugerah Ilahi yang sangat beliau syukuri, dengan ikhlas pula beliau sampaikan kepada siapapun yang membutuhkan.
    Ilmu Al-Qur’an yang diperoleh kemudian beliau rumuskan menjadi bentuk keilmuan yang beliau sebut dengan “Keilmuan Al-Qur’an”. Rumusan atau metode keilmuan tersebut mengacu –sesuai dengan bentuk Ilmu Al-Qur’an yang beliau peroleh kepada format susunan penulisan seperti yang tercantum dalam mushaf Al-Qur’an bertipe 16 halaman (8 lembar) per-juz, dan 18 baris per-halaman. Ketika ditanya tentang rumusan metode keilmuan Al-Qur’an dengan tipe-format yang lain, beliau ‘menjawab: “Bila ada orang yang bisa dan bersedia menjelaskan, sayapun bersedia mempelajarinya. Dulu juga pernah saya coba, tetapi terasa lebih sulit”.
    Ketika menjelaskan metode keilmuannya secara langsung kepada orang yang bertanya, beliau cenderung mengajak untuk bersama-sama memperhatikan Al-Qur’an melalui tipe-format mushaf seperti tersebut di atas. Tampaknya hal itu dimaksudkan pula untuk menjelaskan bahwa format penulisan mushaf dapat membantu seseorang untuk memahami maksud pesan yang terkandung di dalam Al-Qur’an. Format penulisan termasuk pula notasi-notasi tertentu yang tercantum padanya adalah rambu-rambu pembantu bagi orang yang belajar.
    Pada masa sekarang dengan mudah dapat kita jumpai berbagai jenis format-cetak mushaf Al-Qur’an. Tentu ada proses sejarah di balik terbentuknya berbagai jenis format tersebut. Meskipun dicetak/ditulis dalam berbagai jenis format, namun masing-masing mushaf memuat salinan teks ayat yang mengikuti standar Utsmani. Di Indonesia telah ada sebuah Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an yang dibentuk di bawah Departemen Agama Republik Indonesia, dengan tugas mentasbih mushaf Al-Qur’an yang beredar di Indonesia.
    Sekian banyak bahan telah kami kumpulkan, baik yang berasal dari hasil wawancara maupun dari pembicaraan/diskusi di berbagai kesempatan dan catatan-catatan tertulis dari penerus-penerus beliau yang menjelaskan keilmuannya. Mengingat banyaknya bahan yang terkumpul, maka kami berusaha menyuntingnya dalam bentuk kajian yang ada di tangan pembaca ini adalah merupakan ringkasan dari berbagai buku-buku yang kami kaji, yaitu: “Pengantar Fenomologi Al-Qur’an Dimensi Keilmuan dibalik Mushaft Utsmani” oleh Lukman Abdul Qohar Soemabrata. DR Lukman Sasono, Msc. Drs Anharudin, 1991, Penerbit PT Grafikatama Jaya, “Keilmuan dibalik Format Al-Qur’an menelusuri jejak kaki Ibrahim, oleh Lukman A.Q. Soemabrata, 1996, Penerbit Yayasan Hijriah Yogyakarta, “Pesan-Pesan Numerik Al-Qur’an Jilid 1 dan 2, oleh Iskandar AG Soemabrata”, 2006, Penerbit Republika, “Membaca dan Memahami Konstruksi Al-Qur’an dan Tirai Juz, oleh Gus AA, H. Ziyad At Tubani, SQ, 2006, Penerbit Indomedia Group dan berbagai bahan artikel yang terbit di Tabloid Khalifah.
    Terbitnya buku-buku tersebut bermaksud untuk menyampaikan gambaran umum dari bentuk keilmuan yang digali dan dikembangkan oleh Bapak KH. Lukman AQ Soemabrata. Bentuk keilmuan yang bertolak dari pendekatan struktural untuk menggali dan mengungkap arti secara kontekstual. Oleh karena itu pandai-pandailah memilah dan konon kata bijak-bestari sejak zaman dahulu. Nasihat ini berlaku pula bagi kita dalam menyikapi bentuk keilmuan yang hendak disampaikan melalui buku-buku tersebut.
    Bagaimanapun, sebuah bentuk keilmuan –yang berujud seperangkat metode perlu mendapat penilaian yang kritis dan disikapi secara proporsional; dan kami percaya bahwa masyarakat pembaca buku-buku tersebut dan pemerhati keilmuan ini adalah masyarakat yang mampu memberikan penilaian dan bersikap demikian itu. Justru dengan demikian keilmuan termaksud akan lebih jelas dipahami sosoknya, lebih jelas pula bentuk manfaatnya bagi masyarakat pada umumnya dan para pemerhati pada khususnya.
    Semoga para pembaca yang telah mengenal bentuk keilmuan tersebut dapat pula memperoleh tambahan bahan masukan, sehingga pembaca memperoleh informasi yang semakin lengkap. Meskipun telah maksimal kami berusaha menyunting bahan-bahan agar tersaji dengan enak untuk dibaca dan dengan mudah pula untuk dicermati, namun hasilnya tentu belum sesuai harapan. Dalam proses penyuntingan materi kajian tentang JUZDIRI ini, kesulitan utama yang kami hadapi adalah sulitnya menghindarkan pengulangan penjelasan yang sama, oleh karena bahan-bahan tulisan dalam kajian ini berasal dan pengumpulan berbagai penjelasan yang juga dipaparkan dalam berbagai seminar MSFQ di berbagai kota yang disampaikan di berbagai kesempatan oleh nara sumber keilmuan ini dan berkait pula dengan berbagai konteks bahasan lain. Namun, bagaimanapun terjadinya pengulangan dalam sajian materi pada buku-buku tersebut adalah kelemahan dan kekurangan namun dari segi isi sajian materi pada buku-buku tersebut sepenuhnya adalah keilmuan yang disampaikan oleh beliau (Bapak KH. Lukman AQ Soemabrata).
    Segi naratif, yaitu pembahasaan atau bahasa dalam kajian ini, adalah usaha para pencinta ilmu dengan dukungan berupa berbagai masukan dari teman-teman sejawat dan para pembaca Tabloid Khalifah dan berbagai forum diskusi terfokus (FGD) terhadap kajian keilmuan Al-Qur’an ini di Kal-Bar dan Jateng (Semarang), serta Jakarta. Mereka pun telah dengan tulus membantu kami demi suksesnya penyuntingan kajian makalah tentang Struktur Al-Qur’an Digital yang mempresentasikan salah satu topiknya “Sesungguhnya Al-Qur’an Berthawaf Dalam Dirimu” dan JUZDIRI ini. Atas segala dukungan itu kami atas nama Pusat Kajian Struktur Al-Qur’an Digital QITRI (Qur’an, Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Rasional dan Iman) atau Qitri A’in Center Kal-Bar mengucapkan banyak terima kasih dan semoga Allah SWT membalas amal kebaikan mereka. Semoga isi kajian ini bermanfaat bagi bahan renungan dan demi meningkatkan semangat belajar Al-Qur’an. Saran dan kritik para pembaca sangat kami nantikan agar sajian isi makalah ini menjadi lebih sempurna lagi pada paparan mendatang.
    Siapapun yang menerima makalah kajian tentang Sesungguhnya Al-Qur’an Berthawaf Dalam Dirimu dan Apakah JUZDIRI ? ini dapat mendiskusikan kepada siapa saja dan Allah SWT berpesan: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul, dan ulil amri diantara kamu, Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya (QS An-Nisaa (4) Ayat 59) Sesungguhnya Kami MUDAHKAN Al Qur’an itu dengan bahasamu supaya mereka mendapat pelajaran (QS Ad-Dukhan (44) Ayat 58), maka sesungguhnya telah Kami MUDAHKAN Al-Qur’an dengan bahasamu, agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan Al-Qur’an itu kepada orang-orang yang bertaqwa, dan agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang membangkang (QS Maryam (19) Ayat 97) kemudian renungkan hadist berikut ini, yaitu:
    Pertama, Dari Ustman r.a, beliau berkata Rasulullah SAW, “Sebaik-baiknya kamu adalah orang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya” (Himpunan Fadhilah Amal, Muhammad Zakariya Al Kahdahlawi Rah. A diterjemahkan oleh Uts Abdurahman Ahmad ,As Shaff Yogyakarta ,Tahun 2000 halaman 596) dan
    Kedua, Dari Abi Sa’id r.a dia berkata, bersabda Rasulullah SAW, “Tuhan berfirman, Barang siapa yang disibukan oleh Al-Qur’an dari berzikir kepada-Ku dan meminta kepada-Ku, maka Aku memberikan kepadanya sesuatu yang lebih baik dari yang aku berikan kepada yang meminta kepada-Ku. Dan keutamaan perkataan Allah di atas perkataan lainnya seperti keutamaan Allah di atas makhluk-Nya (Himpunan Fadhilah Amal, Muhammad Zakariya Al Kahdahlawi Rah. A diterjemahkan oleh Uts Abdurahman Ahmad ,As Shaff Yogyakarta ,Tahun 2000 halaman 596)
    Pertanyaannya bagi para pecinta Ilmu maupun para alumni ESQ setelah memahami kajian JUZDIRI dan MSFQ (Metode Struktur dan Format Al-Qur’an) di atas, sudahkah anda mencari jalan untuk memahami “jatidiri” kita melalui Al-Qur’an, karena proses pencarian “jatidiri” sesungguhnya berbanding lurus dengan upaya manusia menemukan jalan kembali kepada Allah SWT, artinya semua manusia ingin kembali atau wafat dalam keadaaan husnul khotimah, tetapi bagaimana caranya, tentunya manusia juga harus memahami tanda-tanda kematian, karena Allah memerintahkan manusia membaca tanda-tanda/kode-kode di alam raya dan pada diri manusia, agar mereka “sadardiri, tahu diri dan menemukan fitrah dirinya” sebagai manusia, berikut ini paparan berdasarkan Al-Qur’an dan As Sunnah, agar saudara memahami apa hakekat atau awaluddin marifatullah JUZDIRI itu sebenarnya bagi diri manusia, karena saat ini tidak banyak manusia mengenal “jatidirinya” dan tidak banyak pula yang memahami jalan pulang menghadap Allah, bahkan tidak yakin akan bertemu dengan Tuhan-Nya sebagai pencipta alam raya dan diri manusia, sekalilagi tentunya semua manusia dimuka bumi dan lebih khusus umat Islam ingin wafat husnul khotimah, tetapi sayang tidak banyak manusia mau belajar untuk memahami tanda-tanda kematian ketika sakratul maut menjemput dirinya dan di bumi khatulistiwa kalbar kajian keilmuannya dikenal oleh para ulama spiritual dengan nama “ilmu keputusan”, faktanya memang demikian bahkan ada yang berwasiat dahulu dihadapan kerabatnya, bahkan ada yang membeli kain kafan atau peralatan jenazah, berdasarkan data empirik di Kal-Bar, klien kami sejak 1999 ada 29 orang yang telah mengamalkan istiqomah JUZDIRI-nya dan Tadarusan Al-Qur’an bersistem (Struktur A’in) dan konsisten, bahwa konstitusi tertingginya adalah Al-Qur’an dan al bayannya As sunnah yang meninggal seperti demikian, baik di Kota Pontianak 19 orang Kabupaten Landak 10 orang Kalimantan Barat, apakah ada ilmunya, jika ada apakah ada isyaratnya di dalam Al-Qur’an dan Asunnah ? dan selanjutnya, bagaimana manusia beriman menjemput “tanda-tanda” kematian itu, serta bagaimana gambarannya menurut Rasulullah SAW ?

    • wawan berkata:

      kalau boleh tanya maksud dari petikan ini, terima kasih

      tetapi “sang pribadi sejati” hanya dapat berwujud melalui raga manusia dan jika masih ada jasad yang melekad itulah kodrat yang merupakan sifat yang melekat pada “sang pribadi sejati” sejak azali.

      • darulqohar berkata:

        Sdr Wawan, saya gak ngerti apa maksudnya, darimana asalnya, apa topiknya. Kalau anda tanya tentang yang ada di Darul Qohar insyaAllah saya bisa jawab
        Wassalam
        Anwar

      • wawan berkata:

        maaf pa Anwar, penjelasan di atas yang saya baca ternyata kutipan penjelasan dari bapak Turiman Fachturahman Nur bukan dari Darul Qohar, maaf sudah merepotkan…

      • darulqohar berkata:

        Baiklah sdr Wawan
        Anwar

      • Turiman Fachtrahman Nur berkata:

        “sang pribadi sejati” itulah analogi juzdiri atau dalam bahasa kalimantan itulah “alif berdiri”, dalam bahasa jawa itulah ‘Pancer”, atau “jatidiri” atau dalam bahasa quran itulah “fitrah” 30 ayat 30 sesungguhnya keilmuan juzdiri sebenarnya sudah dikenal di nusantara ini hanya belum tersistem atau terformat, ternyata yg dimaksudkan adalah bahwa juzdiri itu mewakili manusia masing-masing sesungguhnya manusia berbuat berdasarkan keadaan masing masing 17 ayat 84 ternyata manusia dijaga malaikat siang dan malam 13 ayat 11 siapakah namanya “Hafazah” apakah anda yakin kita punya memori file masing-masing yg kelak dilihat sendiri, lihatlah “teknologi komputer” terdiri dari ribuan fixel yg tersusun sehingga kita lihat wujud asli apa yg kita lihat dialam, contoh lain “nike ardila sudah wafat” anda ingin lihat wajahnya cari cdnya anda akan lihat lagi wajah di cd itu baru teknologi buatan manusia apakah manusia tak akan melihat memorinya sendiri.

  8. adsense123 berkata:

    Pangajian ini kantornya dimana yaa

    • darulqohar berkata:

      Assalamu’alaikum Wr.Wb..
      Alamat kami di Jl.Bakti Abri Ujung Rt.02/10 no.57, Kelurahan Sukamaju Baru, Kecamatan Tapos, kota depok….Itu saja terima kasih…

      Wassalam Wr.Wb.

      By R21

  9. nunung berkata:

    Aslmlkm, kalau di bandung alamatnya dimana ya? Mks

    • darulqohar berkata:

      Wa’alaikum Salam Wr.Wb..

      Terima Kasih Telah Berkunjung Ke Blog kami…

      Kalau di Bandung Coba Hubungi Pak Muslim di 0813-20204029, beliau yang mengajar di daerah bandung ( di Dago kalau gak salah )…Itu saja Terima Kasih…

      Wassalam Wr.Wb.

      By R21

  10. Rizki berkata:

    assalamu’alaikum pak,
    saya tinggal didaerah pondok pinang, kebayoran lama.
    adakah tempat atau ssahabat yang dapat mengajarkan tentang keilmuan ini?

    Terimakasih

    rizki

  11. Rustam Effendi berkata:

    Assalamualikum wr.wb
    Nama : Rustam Effendi
    Tempat tanggal lahir : Banjar 13 Januari 1977
    Alamat Jl. Pangeran Antasari No 41 Pelaihari Kab. Tanah Laut Kal-sel
    Saya Minta tolong minta recek kan kembali juz saya. Terima kasih

    • darulqohar berkata:

      Sdr Rustam, setelah di rechek , memang anda mempunyai karakter juz 30, jangan ragu lagi dan segeralah mengamalkannya hingga anda merasakan segala hal yang positif dari bacaan Alqur’an anda.Bila anda perlu Alquran dan buku2 modul belajar dari keilmuan ini dari dasar hingga tingkat yang lebih tinggi, anda dapat menghubungi saya di nomor: 081267541450 atau 087875684813. Wassalam
      Anwar

  12. Asep berkata:

    Bagaimana untuk bisa belajar buka juz diri? Berapa lama? Trimakash

    • darulqohar berkata:

      Kalau anda bersungguh-sungguh belajar keilmuan ini, memasang niat yang baik, InsyaAllah tidak lama anda akan bisa buka juz diri.Tolong data2 anda dilengkapi untuk catatan kami.Kalau anda berminat untuk sungguh2 mendalami keilmuan ini kami bersedia membimbing dan kami ada menyediakan buku2 modul belajar keilmuan ini dari pengetahuan dasar sampai ke tingkat yang lebih tinggi.Sdr. Bisa menghubungi 081267541450 atau 087875684813 (Anwar). Kami tunggu jawaban sdr. Wassalam
      Anwar

    • darulqohar berkata:

      Sdr Asep, jika anda sungguh-sungguh dalam menggali dan mempelajari keilmuan, yang amat luar biasa ini, saya yakin dalam waktu yang tidak begitu lama anda akan bisa buka juz diri. Anda tinggal diman?
      Anwar

  13. ayi djelambar berkata:

    salam tuk yang punya lam punk 23

  14. saefudin berkata:

    assalamu’alaikum… Darul qohar… saya pgn tau JUS saya…
    nama saya saefudin… ttl semarang 26 september 1984… dan bagaimana cara amalannya?? makasih…:)

    • saefudin berkata:

      oya… saefudin bin sarji… klo bsa blas ke fb saya… makasih bgd

    • darulqohar berkata:

      Sdr Saefudin,terimakasih telah berkunjung ke blog Darul Qohar.
      Sdr Saefudin, apakah sdr sudah pernah dibukakan juznya sebelum ini, juz berapa?. Nanti, kalau sudah dibukakan juznya sdr diminta mengaji dengan metode yang telah ditetapkan dan harus menggunakan Alqur’an yang tepat,untuk mendapatkan hasil yang maksimal.Apakah sdr siap?

      Kalau sdr kesulitan menemukan Alqur’an yang tepat ( memang sulit)’ kami ada menyediakannya serta buku2 modul belajar keilmuan ini dari pengetahuan dasar sampai ke tingkat yang lebih tinggi. Jika anda serius, anda bisa menghubungi 081267541450 atau 087875684813 ( Anwar )

      Kami akan senang membimbing sdr dalam hal mempelajari keilmuan ini. Dengan tersedianya perlengkapan belajar anda,( anda bisa pesan), hingga memudahkan bagi anda belajar dan memudahkan bagi kami membimbing anda.
      Untuk komunikasi yang lebih cepat, anda bisa hubungi 081267541450 atau 087875684813 ( Anwar )
      Wassalam
      Anwar

  15. d.hariyanto berkata:

    nabi muhammad adalah quran yg berjalan…seperti hadist yg di riwayatkan oleh siti aisyah…pemahaman beliau secara khafah atau koperhensif yg menjadikan beliau tauladan bgai umatnya…apakah cara yg seperti ini di ajarkan oleh nabi muhammad…sedangkan quran adalah petunjuk bagi umat islam dari juz 1 s/d juz 30 … mohon dijelaskan dengan sejelas-jelasnya…maklum saya orang yg bodoh

    • darulqohar berkata:

      Silahkan anda datang kealamat kami
      MAJELIS PENGAJIAN DARUL QOHAR
      JL. BHAKTI ABRI 57, KEL.TAPOS DEPOK
      ANDA BISAHUBUNGI HuMas kami di: 081267541450 atau 087875684813
      Wassalam
      Anwar

  16. ida berkata:

    ass ww, sy pernah denger jangan pernah bercita cita membaca al quran untuk supaya bisa buka juz. kalau baca2 email2 disini seperti nya bisa ya. siapa yg tidak ingin menaikkan level diri smp seperti yg demikian. bisa tidak sy diberitahukan apa2 tahapannya dan apa yg mesti saya miliki sebelumnya. karena saya tidak punya kemampuan indra ke 6. terimakasih ida18.

    • darulqohar berkata:

      Ibu Ida, saya juga tidak punya kemampuan indra ke 6 seperti yang ibu katakan itu, tapi Allah itu Maha Berkehendak, Dia bisa saja memberikan kemampuan apa saja, kepada siapa saja yang Dia mau.
      Wassalam
      Anwar

  17. purbono berkata:

    Salamun’alaikum bima shabartum,
    Selamat untuk Darul Qohar, semoga misi dan visi nya dapat tercapai dan segala rintangan dan hambatan dapat dilalui dan dimudahkan oleh Allah. Maaf kalo telat, ternyata sudah terbentuk cukup lama, baru mengetahuinya baru baru ini.
    Senang rasanya, mengetahui keilmuan ini disyiarkan melalui media ini, sehingga teman-teman dapat berinteraksi kembali dengan keilmuan ini.
    Saran :
    Ada page yang berat untuk diakses (pola sahabat dan pola 45) dimana, dalam satu page terdapat beberapa image yang mana besar tiap file image-nya lebih dari 500kb. Untuk pola 45 saja ada 30 image pola 45 tiap juz (@700kb x 30 = 21 MB) dan 10 image pola sahabat (@ 990kb x 10 = hampir 10 MB). Mengingat kecepatan koneksi internet masih kurang memadai, maka lebih baik image tersebut dibuat thumbnail atau hiperlink saja, sehingga ketika buka page lebih ringan dan pengguna dapat “mendownload” image yg dibutuhkan saja tanpa mengurangi “kualitas” image tersebut. Semoga dapat bermanfaat.

    Wasalamu’alaikum,

  18. budipuspo berkata:

    Wahhh, selamat kepada Majelis Darul Qohar, saya jadi ingat waktu belajar dengan Pak Lukman tahun 90-an, baik di Jakarta maupun di Jogja, syukur sekarang sudah berkembang semakin ramai, semoga ilmu yang ditinggalkan Pak Lukman bermanfaat bagi kita semua.
    Salam untuk Mamah dan semuanya,
    Budi Puspo
    Jogjakarta

  19. fiqi75 berkata:

    Assalamualakum wr wb.
    Alhamdulillah setelah sekian lama saya akhirnya dapat menemukan ini.
    sebelumnya salam kenal,nama saya Fiqi.Dulu tahun 99 saya pernah belajar Format ini dari Alm Bpk. H Maman di Bandung yang merupakan murid dari Alm Papah Loekman.
    Sejak tahun 2000 saya kehilangan kontak dengan pengajian ini.
    Jika berkenan saya mohon alamat pengajian ini di Bandung,Jogja dan Batam.
    Salam hangat untuk seluruh keluarga.
    Wassalamualaikum

  20. aji berkata:

    ass wr wb salam buat mama kuhusnya ayah
    dan teman 2 di darul qohar aji d teman 2 d pontianak

  21. Dewi Tazriyani berkata:

    Asm…Kl kita lg ngamalin pola ANNISA yg 8 hari berturut2 blh dak kita dlm masa itu ad mengamalkan jus pribadi & pola2 yg lainnya.

    • darulqohar berkata:

      ya, kita harus selalu mengamalkan juz pribadi dan pola lainnya walau membaca pola Annisa yang 8 hari, (untuk selalu menjaga energi Al Qur’an)karena juz pribadi adalah hal pokok yang harus diamalkan.
      Wassalam
      Anwar

  22. Dewi tazriyani berkata:

    Asm..Alquran ini kan banyak sekali manfaat dan faedahnya dalam berbagi macam kebutuhan dan keperluan, baik untuk penyembuhan maupun keperluan yang lainnya. Misalnya bila kehilangan barangnya orang biasanya membaca surat yasin ataupun At tauhriq, untuk mengusir setan atau jin biasanya dengan membaca ayat kursi. Yang ingin saya tanyakan dalam pengajian ini adakah pola bacaan untuk mengembalikan barang yang hilang..
    Wasallam.

    • darulqohar berkata:

      Sdri Dewi, pola baca untuk mengembalikan barang yang hilang tidak ada, tapi untuk mencari pencuri atau mencari jejaknya ada. Ini adalah usaha kita orang yang kehilangan, hasilnya Allah juga yang menentukan.
      Wassalam
      Anwar

  23. Dewi Tazriyani berkata:

    O.. begitu ya pak, boleh juga tu Pak..Saya senang dengan adanya metode pengajian ini selalu membuat kita memminta pertolongan kepada yang diatas sana Allah SWT, dengan melalui perantara informasi orang2 yang lebih tau dan paham mengenai metode pengajian ini, terutama anda sendiri menjadi tempat buat saya banyak berbagi mengenai informasi ini.. Jika bpk berkenan bolehkah saya minta diberikan pola tersebut, atas sebelum dan sesudahnya sekali lagi saya ucapkan banyak2 terima kasih.
    Wasalam.

  24. Herry Poerwanto berkata:

    Syukur alhamdulillah saya msh dpt bertemu dgn ilmu Papa Luqman, semoga sdr Anwar diberi tambahan kemampuan unt menyebarluaskan ilmu AL Qur’an dgn metode yang dirintis Papa Luqman. Salam dr saya di Yogyakarta.

  25. Maya berkata:

    ​​​​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
    Adakah kelas di Bandung?

    • darulqohar berkata:

      Wa’alaikuum salaam..

      Alhamdulillah Hirobil’alamiin.. Di Bandung sudah ada,jl Dago dalam No.40. Manggaa… Hubungi bapak Muslim.
      Haturnuhun…

      Wassalam
      MPDQ-PS

  26. maya berkata:

    Assalaamualaikum Wr. Wb.
    Salam kenal..
    Saya pernah mengikuti kajian yang serupa, melalui sebuah pelatihan. Namanya MSQ 368. Apakah ada hubungan silaturahmi dengan lembaga tersebut ?
    Bolehkan diinformasikan background pendidikan dari pengurus serta pengajar Majelis Darul Qohar ?

    Terimakasih banyak atas info nya

    Wassalam

    • darulqohar berkata:

      Wa’alaikuum salaam..
      Salam kenal kembali utk Sodari Maya.. Dan mohon maaf baru kami balas..
      Untuk hubungan silaturahmi dan komunikasi dengan lembaga MSQ 368 kami selalu ada, tetapi kami berbeda sumber, sistem dan metodenya.
      Background pengajar/tutor dan pengurus kami dari tingkatan SLTA s/d S2 dengan jam terbang/wawasan pengetahuannya insyaAllah bisa kami pertanggung jawabkan.
      Terimakasih Sodari Maya sdh masuk ke blog kami,apabila belum puas dgn jawaban kami silakan datang ke tempat kami setiap hari kerja.

  27. hari murtiadi berkata:

    Assalamu’alaikum wr.wb,
    Syukur alhamdulillah, akhirnya saya mendapatkan “tautan” kembali tentang KHAlifa format Al-Qur’an 18, padahal sudah 10 tahun saya tinggalkan, karena kesibukan tugas ke Propinsi Jawa Tengah. Pada waktu itu, saya adalah pelanggan setia Tabloid KHAlifa, sampai saya mengoleksi Bundel nya dan dapat 3 tahun. Hal itu, saya lakukan ketika masih tinggal di rumah orang tua di Depok (Perumnas Depok Jaya 1 – PancoranMas). Dari Bundel dan tabloid yang saya pelajari, ada Ghirah / kekuatan hati untuk memperdalam dan menggunakannya buat kehidupan di alam semesta dan kebaikan untuk bekal di AKhirat, namun…sayang…karena urusan duniawai…akhirnya sempat terputus.

    Entah mengapa, beberapa minggu yang lalu (sebelum Iedul Fitiri 1435 / 2014), saya teringat kembali tentang methode Al-Qura’an format 18, dan teringat juga mengenai koleksi Bundel dan tabloid KHAlifa saya, yang sampai dengan saat ini, masih saya simpan rapih, di Perpustakaan Pribadi saya di Gogik – Ungaran – Semarang – Jateng. Sejak saya kembali meninggalkan semarang dan menetap sementara di Depok, karena tugas baru di perusahaan yang berbeda. Karena sebuah resiko yang harus saya hadapi atas pilihan hidup /pekerjaan yang saya ambil, demi keberkahan dan kehalalan rezki yang harus saya dapatkan.

    Oleh karena itu, dengan niat yang sangat kuat, saya tetapkan di dalam hati, bahwa ke-kangenan saya ini harus di cari sampai ketemu. Akhirnya saya search via mbah Google, dan akhirnya menemui…. ilmu-ilmu tentang JUZ, Surah, Ayat dan angka numeric, sehingga hal itu kembali me-review ingatan – ingatan saya.

    Ya Allah, semoga methode Alqur’an format 18 ini, dapat menetapkan HATI dan keimanan saya untuk berjalan di rel kehidupan yang benar dan meningkatkan kualitas iman dan taqwa.

    Untuk Redaksi, mohon saya di informasikan tempat Al-Arqam yang terdekat dari tempat tinggal saya di Depok. dan mohon saya di informasikan JUZ pribadi saya, denganketerangan.

    Nama : Hari Murtiadi
    TTL : Jakarta / 05 Nov 1972

    Demikian rasa syukur saya atas pertemuan dengan KHAlifa….
    Mohon jawabannya ya mas?

    terima kasih.

    wassalam…..

    • darulqohar berkata:

      Wa’alaikumussalam wr.wb.

      Saudara Hari Mutiadi yang dirahmati Allah SWT.. Alhamdulillahirobbil’alamiin, kami turut bersyukur bahwa saudara sdh diingatkan kembali oleh Allah SWT untuk kembali kepada keilmuan ini (Sistem Metode Format Al Qur’an, tafsir Lukman AQ Sumabrata).
      Atas niat baik saudara utk dibukakan Juz & ingin belajar juga mengaji, kami sarankan datang saja ke Darul Qohar yang alamatnya tidak jauh dari tempat Saudara berdomosili di Depok 1, kami berada di jl.Bakti Abri no.57 Rt.01/02 kel. Sukamaju Baru – Tapos – Depok.
      Lebih jelasnya silahkan buka maps/peta di blog/web ini. Silahkan datang pada hari & jam kerja dgn menghubungi bapak Prayitno (081574525368). Terima kasih.

      Wassalam
      MPDQ-PS

  28. ani suparniati nur berkata:

    Assalamu alaikum wr. wb.
    Adakah pengajiaan ini di Bekasi saya ingin belajar. saya dulu sempat mengenal tabloidnya dan sempat mau mencari ke sekretariatnya ingin tahu lebih jauh tapi tabloidnya sulit didapati sampai akhirnya saya baru mengngatnya lagi kini.terimakasih

    • darulqohar berkata:

      Wa’alaikumussalam wr.wb.

      Saudari Ani, terima kasih sudah masuk ke blog kami semoga bermanfaat untuk Saudari.
      Saudari Ani, kami adalah MPDQ yang berlokasi di Jl. Bhakti Abri no.57 kel.Sukamaju Baru kec.Tapos Depok. Saudari silahkan hadir ke MPDQ untuk belajar pada hari dan jam kerja dari hari Senin s/d Sabtu.
      Kami MPDQ sangat lain manajemennya dengan tabloid yang Saudari maksud walaupun keilmuannya mirip. Jadi kami tidak ada hubungan manajemen sedikit pun dengan tabloid tsb walaupun di sisi lain sama dalam membuka/mengaji Juz. Untuk lebih jelasnya silahkan datang ke alamat kami, karena jamaah yang dari Bekasi pun banyak yang sudah hadir. Atau silahkan kontak ke no.hp 081574525368. Terima kasih.

      Wassalam
      MPDQ-PS

  29. eka sayuti berkata:

    Situs ini sangat bermanfaat

  30. eka sayuti berkata:

    Ass..pak ust,
    Mohon di bantu untuk membuka juz saya lahir pada tgl. 17 september 1965,agar saya dapat mendalami dan memahami isi juz tersebut agar mendapat kemudahan dunia akhirat.

    Terima kasih atas perhatiannya
    Salam,
    Eka sayuti

    • darulqohar berkata:

      wa’alaikumsalam wrwb.
      terimakasih telah merespon dengan baik blog kami.
      untuk membuka juz nya, perlu benar2 bapak/ibu baca dan pahami benar ttg metode dan tatacara pembacaan yg kami sampaikan.
      selain itu bapak/ibu juga harus memiliki al quran format 18 barisnya. Yang jg bisa dipesan dari kami.
      terimakasih
      wassalam
      syaiful husein

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s