Karakter Diri Juz 10 ( Tidak Ceroboh dan Materialistis )


JUZ 10

1. Profil

Juz ini terdiri atas dua surat yang sama-sama tidak penuh, yaitu

surat ke-8 (al-Anfaal) 35 ayat, dan surat ke-9 (at-Taubah) 93 ayat.

Berikut daftar nama surat dan jumlah ayat pada juz 10 :

1.   8 Al-Anfaal ( 35 Ayat )   41 – 75      Rampasan Perang

2.   9 At-Taubah ( 93 Ayat )    1 – 93      Taubat

Jumlah ayat     ( 128 Ayat )

Jumlah ayat pada juz ini 128, dan jumlah tanda ’ain pada juz ini 17

 

2. Karakter Juz 10

Juz 10 merupakan gambaran tentang dua kekuatan yang selalu

tarik-menarik dalam diri setiap manusia, yaitu kekuatan atau ambisi

yang dapat membuat kondisi fisik dan jiwa menjadi desturktif, dan

kekuatan yang dapat membuat kondisi konstruktif sekaligus. Surat

al-Anfaal, yang berarti Pampasan Perang, fungsi destruktif dari kehidupan,

katakanlah ia ”dewa perusak”. Dan surat at-Taubah ”dewa

pemeliharan”, yang cenderung mengarah pada pemurnian dan pelestarian.

Tetapi surat at-Taubah dalam juz ini hanya berisi 93 ayat, atau

apabila dimampatkan menjadi 12. Ini berarti bahwa pelestarian dan

pemeliharaan yang dapat dimiliki oleh manusia hanya sampai titik

12, ada satu titik yang tak dapat dilestarikan, yaitu keabadian fisik

itu sendiri. Titik 13 energi (surat ke-13 ar-Ra’du). Bagaimanapun,

kehancuran fisis secara total akan dialami oleh setiap manusia. Dan

manusia tidak akan selamanya mampu memelihara energi dalam

dirinya. Suatu saat energi akan lepas dari fisiknya, dan di situlah

kematian.

Seorang juz 10 sosok manusia materialis sejati. Apa yang ia pikirkan

segala sesuatu yang berkaitan dengan pemuasan materiil

(perut). Angka 10 sama dengan ( Ro’ ), yang berarti perut.

Surat al-Anfaal dalam dirinya membuat ia selalu haus akan harta,

dan selalu berambisi untuk menumpuk kekayaan. Bahkan, kalau

mungkin ”merampas” hak milik orang lain pun dilakukan demi

untuk kepuasan perutnya. Dan hasrat pemupukan kekayaan , bagi

setiap manusia ternyata juga tak ada kata lelah. Surat al-Anfaal

dalam juz 10 sebanyak 35 ayat, atau kalau dimampatkan menjadi

(8). Angka 8 sama dengan ( Dal ), yang berarti darah, dan sifat darah

mengalir secara sirkulatif, tak ada ujung pangkalnya. Ini berarti,

bahwa usaha menumpuk harta bagi manusia tak ada jeranya.

Semakin dikejar, semakin kurang.

Tetapi surat al-Anfaal dalam juz 10 digandeng dengan surat at-

Taubah (tobat). Ini berarti bahwa antara tobat dan kesalahan , dua

peristiwa yang hakiki dalam kehidupan manusia. Tobat kebutuhan

hakiki manusia, untuk memurnikan atau mengembalikan kondisi

”murni” dari kondisi ”rusak”. Dan bertobat dilakukan berkali-kali.

Selagi ia masih hidup, maka bertobat haruslah dilakukan secara

rutin. Sebab tobat hanya dapat dilakukan ketika manusia masih

hidup. Ini berarti bahwa hanya pada saat hiduplah manusia memerlukan

tobat.

Persoalannya, bertobat dari apa ? Bertobat atau melakukan pemurnian,

jelas dilakukan sebagai usaha diversifikasi dari kondisi

sebelumnya, yaitu kondisi ”tidak murni”. Orang banyak yang menyebutnya

sebagai ”dosa”. Misalnya, orang berada pada kondisi

”sakit-sakitan” ”dos”, karena ia berada di luar rentetan sunnatullah ,

sehingga mengalami sakit fisis. Karena itu, ia perlu melakukan ”pemurnian” (tobat) agar sehat, sehingga ia dapat menjalani dan

menikmati hidup secara layak.

Di sini jelas, bahwa juz 10 menggambarkan sebuah siklus yang

terjadi pada manusia, antara aktivitas yang cenderung membuat

kondisi destruktif (al-Anfaal), dan aktivitas yang membuat kondisi

konstruktif (at-Taubah). Dan dua aktivitas tersebut sama sekali tak

dapat dipisahkan dalam realitas kehidupan manusia di dunia ini.

Apabila salah satu fungsi dari kedua surat tersebut mengalami kemandegan,

maka seseorang akan mengalami ketidakseimbangan

dalam hidupnya.

Karakter seorang juz 10 juga sapat dipahami dengan dua surat

tersebut. Kecenderungan materialismenya tinggi, tetapi suatu ketika

ia juga memiliki, kepedualian lingkungan (sosial) yang cukup kuat.

Ia berhasrat untuk memupuk kekayaan, tetapi sekaligus ia juga tidak

berkeberatan untuk menyumbangkan kekayaannya pada orang lain,

atau untuk kegiatan sosial.

Dengan demikian istilah ”ekonomi-moderen” yang menyatakan

bahwa manusia ”homo-economicus”, hanya tepat untuk menjelaskan

fenomena psikologis seorang juz 10. Artinya, filsafat ”ekonomimoderen”

hanya merupakan bagian terkecil dari kandungan al-

Quran yaitu juz 10.

Memang, daya saing seorang juz 10 begitu kuat. Ia memiliki kepekaan

bisnis yang begitu tinggi. Semangatnya untuk mengakumulasi

kapital dan kekayaan begitu besar. Bahkan, dialah salah satu juz

yang paling jelai di dalam membuat ”nilai” tambah pada setiap

bahan dasar. Oleh karena itu, jika seorang anak kuz 10 dikondisikan

sejak kecil untuk menjadi seorang yang bergerak pada bidang produksi

(produsen), ia akan sukses.

Huruf cetak-tebal pada ayat awal juz ( Wa’lamuu). Pertama kali ia

memiliki ( Wau ). Ini berarti bahwa apa yang ia pikir bagaimana mengakumulasi

modal. Bahkan huruf ( ‘Ain ) dimatikan, yang berarti ia sama

sekali tidak memiliki pertimbangan etis dalam memburu materi.

Seorang juz 10 juga memiliki kecakapan dalam mencari relasi

bisnis (modal).

 

3. Kelemahan dan Kelebihan

Kelemahan seorang juz 10 sekaligus terdapat pada bagian perut

(pencernaan) dan atau bagia kepala (otak). Jika egoismenya muncul,

maka fisiknya menjadi lemah, dan ketergantungannya terhadap

orang lain juga muncul. Kelemahan fisis lain terletak pada tangan

kanan. Juz yang mirip dengan juz 10 adalah juz 1, 19 dan 28.

Kelemahan seorang juz 1 juga mirip dengan kelemahan juz-juz

tersebut.

4. Keilmuan

Angka 10, apabila dihubungkan dengan nama surat, maka akan

merujuk pada surat Yuunus. Surat ini merupakan gambaran tentang

luas dan dalamnya air laut. Juz 10 atau surat ke-10 juga dapat dipakai

untuk memahami kondisi psikologis seorang anak pada usia 10

tahun.

Anak pada usia 10 tahun, seorang anak kecil pada umumnya

malas mandi. Namun, apabila hujan turun, dengan senang hati ia

akan mandi air hujan tanpa mempedulikan lagi efek bagi kesehatannya.

Daya pikir abak usia 10 tahun pada umumnya rata-rata saja,

jarang seorang anak pada usia ini menunjukkan prestasi yang istimewa.

Bahkan ada kecenderungan anak malas serta mudah terbawa

arus oleh lingkungannya.

Pada usia ini, anak sangat rakus dalam melahap makanan terutama

makanan jajan (akomodasi perut), sehingga banyak anak terserang

penyakit perut. Terapi yang dilakukan untuk membangkitkan

semangat belajar anak usia 10 tahun diantaranya mengajak dan mengajarkan

dia berolah raga yang teratur sesuai kemampuan fisik.

Dengan berolah raga, di samping merangsang kerja otak juga

memaksa anak untuk mandi. Dongeng-dongeng atau cerita yang

banyak mengandung perumpamaan serta teka-teki sistem pendidikan

yang paling tepat dan sangat disukai anak pada usia ini. Tanpa di

sadari cerita-cerita itu akan menimbulkan rangsangan pada otak si

anak untuk mencerna dan berpikir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s