Pembuktian 17 Rakaat Shalat (Melalui Pendekatan Numerik Al Quran) – 2


Masih membahas tentang tulisan sebelumnya (Pembuktian 17 rakaat shalat). Kali ini, mari kita coba hubungkan dengan sistematika 114 sura di Al Quran. Sebagai tahap awal, yang diperhatikan cukup 1 surat awal dan 1 surat akhir, dan 112 surat di antara surat 1 dan 114. Sistematika numeriknya dapat dijelaskan sebagai berikut :

  • Surat ke 1 dari awal dalam Al Quran adalah 1 Al Faatihah dengan jumlah 7 ayat.
  • Surat ke 1 dari akhir dalam Al Quran adalah 114 An Naas dengan jumlah 6 ayat.
  • Diantara surat ke 1 sampai dengan surat ke 114, terdapat 112 surat.
  • Nilai 112 disubsitusikan menjadi nomor surat, yaitu surat ke 112 atau Al Ikhlaash dengan jumlah 4 ayat.
  • Sehingga terbentuk sistematika sbb :

         Qs. 1 (Al Faatihah) 7 ayat – Qs. 112 (Al Ikhlaash) : 4 ayat – Qs. 114 (An Naas) 6 ayat.

  • Memperhatikan Qs. 112 (Al Ikhlaash) dengan makna redaksi verbalnya, yaitu menjelaskan tentang konsep untuk memurnikan keEsaan Allah swt (ketauhidan).
  • Berarti dari awal Al Quran (Qs. 1) sampai dengan akhirnya (Qs. 114), cukup jelas menggambarkan bahwa Al Quran dengan segala hikmah ilmu yang terkandung di dalamnya, akan menghantarkan manusia yang istiqamah berpegang teguh padanya, kepada satu muara, yaitu memurnikan keEsaan Allah (ketauhidan).
  • Nilai 112 juga merupakan jumlah ayat dari Qs. 21 (Al Anbiyaa’/Para Nabi). Hal ini semakin menegaskan bahwa ternyata benang merah dari ajaran dan risalah para rasul adalah tentang ketauhidan, sebagaimana yang ditegaskan pada 21 Al Anbiyaa’ ayat ke 25 : “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku”.
  • Perhatikan korelasi dari nilai 21 dan 25, pada ayat di atas. Qs. 21 adalah Anbiyaa’ : Para Nabi, sedangkan nilai 25 nya adalah merupakan jumlah para nabi yang wajib diimani. Artinya pada ayat ini jelas menegaskan bahwa : pengutusan seluruh rasul kemuka bumi ini, tidak lain adalah untuk menyampaikan dan meyakinkan seluruh ummat manusia bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan oleh karena itu maka sembalah Dia.
  • Dengan landasan ketauhidan inilah, maka selanjutnya nilai 4 (jumlah ayat dari Qs. 112) akan dijadikan sebuah parameter sistematika selanjutnya.
  • Konsep tauhid, adalah hanya ditujukan kepada yang Maha Esa/Satu (Allah), sebagaimana redaksi verbal dari Qs. 112 yaitu : “Katakanlah (Muhammad), “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa”.
  • Maka gerak sistematika numeriknya dibuat terbalik, yaitu dari surat ke. 114 (akhir) menuju ke surat ke 1 (awal). Atau menjadi : Qs. 114 – Qs. 112 – Qs. 1.
  • 114 berjumlah 6 ayat dan Qs. 1 berjumlah 7 ayat. Dengan parameter 4 ayat dari Qs. 112 yang menjadi rumus pemilahan jumlah ayat (Qs. 114 dan Qs. 1), maka selanjutnya : 6 ayat dari Qs. 114 menjadi : 4 + 2, dan jumlah 7 ayat dari Qs. 1 , menjadi : 4 + 3.
  • Sehingga terbentuklah sistematika urutan baru yaitu : 4 + 2, 4, dan 4 + 3.
  • Bukankah ke 5 variabel tersebut ternyata merupakan urutan jumlah rakaat dalam 5 waktu ?. Yakni :

         4 (Isya’) – 2 (Shubuh) – 4 (Dzuhur) – 4 (‘Ashar) dan 3 (Maghrib).

Lebih jelasnya lihat skema di bawah :

Lampiran (114-1) rakaat shalat

Baca selanjutnya

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Pembuktian 17 Rakaat Shalat (Melalui Paradigma Numerik Al Qur’an) – 1


Sudah sama-sama diketahui bahwa shalat adalah ritual ibadah fardhu yang diamalkan bagi setiap muslim yang istiqamah dengan Iman dan Islamnya. Jumlah masing-masing rakaat pun dari 5 waktu yang di fardhu kan, telah dilaksanakan dengan penuh khusyu’ dan keyakinan. Insya Allah, seluruh amal ibadah tersebut diterima dengan baik oleh Allah swt.
Dalam tulisan ini kami hanya ingin berbagi ilmu dengan mengulas bagaimana terlahirnya masing-masing jumlah rakaat dari 17 rakaat dalam 5 waktu tersebut. Wacana ini tentu sudah banyak disampaikan oleh para ahli agama, dengan kajian verbal Al Qur’an dan Hadist. Namun, mungkin masih sedikit yang mengulasnya dari sisi numerik Al Qur’an. Harus di akui dengan jujur, riwayat hadist shahih tentang bagaimana terlahirnya jumlah masing-masing rakaat tersebut (seandainya ada), ternyata masih sangat minim sosialisasi nya kepada ummat. Bahkan dengan keminiman tersebut, kamipun sampai saat ini, belum berhasil menemukan riwayat shahih yang menjelaskan hal ini secara terperinci. Kecuali, keterangan-keterangan shahih yang menjelaskan tentang waktu-waktu pelaksanaannya saja. Tanpa bermaksud mengabaikan atau mengenyampingkan riwayat shahih yang minim sosialisasinya, dan bukan pula atas dasar keraguan pada keberadaan ritual shalat yang sudah dijalani ummat selama ini, serta sambil berharap dan berusaha mendapatkan referensi shahih tersebut, kami dari pengkaji Al Qur’an melalui pendekatan numerik Al Qur’an, berusaha mencari referensi shahih dan aktualnya dari sang sumber ilmu itu sendiri, Al Qur’an. Sebuah ikhtiar, yang dilandasi oleh keyakinan bahwa memang benarlah adanya Al Quran adalah kitab petunjuk (huda li naas), sumber dari segala sumber ilmu.

Selanjutnya, bila memperhatikan dari sisi redaksi verbal Al Qur’an, ternyata untuk hal ini pun tidak ada penjelasan sama sekali. Tidak ada satupun redaksi verbal (terjemahan) Al Quran yang menjelaskan hal bilangan rakaat dari masing-masing waktu shalat. Nah, berangkat dari di sinilah keingintahuan kami bermula. Karena harus diyakini bersama, bahwa Al Qur’an adalah sumber dari segala ilmu, pastinya untuk hal yang sangat penting seperti jumlah rakaat shalat, tentu ada keterangannya di sana. Kalau tidak ada disisi redaksi verbalnya, mungkin dari sisi numeriknya.

Pembuktian Melalui Lafadz Shalat

Di Al Qur’an, sebagian besar ayatnya yang menjelaskan tentang shalat, menggunakan lafadz :

ﺻﻟﻮﺓ

Secara nilai numerik kata Shalat ini dapat diuraikan sbb :

LAFADZ SHALAT

Baca selanjutnya

Dipublikasi di Shalat | Tag , , , , , , | Tinggalkan komentar

Mukjizat Syahadat (Melalui- Pendekatan Numerik Al-Quran) – 2


Melanjutkan bahasan sebelumnya (Posting dengan judul Mukjizat Syahadat (Melalui Kajian Numerik Al Quran), telah disampaikan bahwa yang dimaksudkan dengan mukjizat syahadat adalah mukjizat Al Qur’an. Dimana dibalik pesan untuk bersyahadat tersebut, ternyata tersembunyi pesan untuk mempelajari dan memahami Al Qur’an dalam rangka lebih meningkatkan kualitas pemahaman dan pengamalan ke 4 rukun Islam setelahnya (Shalat, Zakat, Puasa dan Hajj).

Ada sebuah ayat di Al Qur’an yang sudah demikian familiar dikalangan ummat Islam, yang jelas mendukung pemahaman tentang korelasi antara Syahadat dan Al Qur’an, yaitu Qs. 29 Al ‘Ankabuut 45 yang merupakan ayat pertama dari juz 21 :

Bacalah Kitab (al-Quran) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Dari ayat tersebut jelas mengisyaratkan tentang kedudukan syahadat (membaca, mempelajari dan memahami Al Qur’an) lebih didahulukan dari rukun Islam yang ke dua (shalat). Dari kalimat Bacalah Kitab (Al Qur’an) yang telah diwahyukan kepada (Muhammad) dan laksanakanlah shalat, jelas disini mengisyarakat betapa pentingnya kita mempelajari dan memahami Al Qur’an, sehingga dengan semakin baiknya tingkat kepahaman kita akan ilmu Al Qur’an, maka seiring itu pula ilmu tersebut akan menghantarkan kita kepada tingkat penegakan shalat yang mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar, Insya Allah.

Lebih lanjut, kajian numerik Al Qur’an tentang Syahadat akan akan membahas beberapa uraian sebagai berikut :

Masjidil Haram sebagai Simbolik dari Al Qur’an

Telah dipaparkan sebelumnya tentang Ka’bah adalah merupakan sebuah simbol dari Al Qur’an. Bagaimana dengan Masjidil Haram ?, karena pada ayat di Qs. 2, Al Baqarah 150, jelas tertera lafadz Masjidil Haram.

Dihubungkan dengan kalimat syahadat, yang pengucapannya berulangkali kita lakukan pada saat shalat yaitu ketika dalam posisi tahyat, dengan serta merta diiringi pula dengan menegakan/mengangkat jari telunjuk kita, yang tentunya arah tunjuk jari tersebut akan searah dengan arah kiblat shalat. Cobalah perhatikan bentuk kepalan tangan kita, pada saat pengucapan syahadat tersebut. Ternyata bentuk tersebut menyerupai bentuk Masjidil Haram bila dilihat dari arah atas. Seperti gambar di bawah ini.

Mim-2

Gambar tersebut, adalah visualisasi Masjidil Haram sebelum terjadinya renovasi besar-besaran belakangan ini. Namun pada kondisi akhir pun, bentuk dasar seperti di atas masih dipertahankan. Perhatikanlah bentuk tersebut, bukankah bentuknya menyerupai bentuk kepalan tangan ketika dalam posisi syahadat pada waktu tahyat? Apakah hanya kebetulan, ataukah ada pesan tersembunyi di sana?. Berikut adalah analisa numeriknya :

  • Sekilas bentuk visualisasi tersebut jelas membentuk salah satu abjad dalam hijiyah, yakni ajad MIM ( ﻣ ) atau abjad ke 24, atau lebih jelasnya adalah :

MIM-KECIL

  • Artinya, ketika kita bersyahadat (dalam shalat) pada saat posisi tahyat ternyata memilki konektifitas dengan Masjidil Haram. Karena baik Masjidil Haram dan bentuk kepalan tangan dengan posisi jari telunjuk di tegakkan (posisi syahadat) sama-sama berkorelasi dengan huruf MIM (huruf ke 24). Bagaimana sistematika numeriknya, sehingga mengisyaratkan bahwa Masjidil Haram pun merupakan sebuah simbolik dari Al Qur’an.

Berikut penjelasannya :

  • Bila angka 24 disubstitusikan menjadi nomor surat adalah Qs. 24 An Nuur dengan 64 jumlah ayat. Nilai nomor surat ditambahkan dengan jumlah ayatnya : 24 + 64 = 88.
  • Nilai 88 adalah sama dengan nilai numerik pada kata Al Qur’an (ﺍﻟﻗرﺍﻦ). Atau lebih jelasnya lihat skema di bawah ini :

Tulisan Al Quran :

alquran 88-kecil

  • Sepertinya mulai terlihat, konektifitas antara Masjidil Haram dan Al Qur’an. Dan perlu di ingat pula bahwa salah satu nama lain dari Al Qur’an pun adalah An Nuur.
  • Nilai 88 yang diperoleh, kembali disubstitusikan menjadi nomor surat ke 88 yaitu, Al Ghasiyah dengan 26 ayat. Nilai 88 + 26 = 114. Nilai 114 adalah sama dengan jumlah surat di Al Qur’an.

Ternyata dibalik bentuk Masjidil Haram tersebut mengandung pesan tentang Al Qur’an (simbolik dari Al Qur’an). Hal ini semakin menegaskan tentang makna dari Qs. 2 Al Baqarah ayat 150 (yang sudah disampaikan pada tulisan “Mukjizat Al Qur’an” seri pertama), bahwa

“Dan dari mana pun engkau (Muhammad) keluar, maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, maka hadapkanlah wajahmu ke arah itu, agar tidak ada alasan bagi manusia (untuk menentangmu), kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, agar Aku Sempurnakan nikmat-Ku kepadamu, dan agar kamu mendapat petunjuk.”.

bermakna : dari mana saja kita keluar dan di mana saja kita berada, selalulah berpedoman pada Al Qur’an.

Lanjutkan baca

Dipublikasi di Syahadat | Tag , , , , | Tinggalkan komentar

Mukjizat Syahadat (Melalui Kajian Numerik Al Quran)


Adalah merupakan sebuah kewajiban bagi seluruh muslim untuk memahami apa-apa yang terkandung dalam Rukun Iman dan Rukun Islam. Alhamdulillahi rabbil ’aalamiin, telah sangat banyak para ulama dan cendikiawan muslim yang menyampaikan tentang berbagai keutamaan dari beberapa rukun Islam. Misalnya, keutamaan shalat, zakat, puasa dan hajji. Namun, mungkin masih sedikit yang membahas atau menyampaikan tentang keutamaan syahadat. Dan sebagai wujud kepedulian dan berbagi sesama muslim, kami dari pengkaji Al Qur’an melalui pendekatan numerik, pun ingin turut berpartisipasi untuk menyampaikan beberapa pemahaman kami yang sedikit, dengan harapan bahwa ternyata betapa pendekatan numerik sebagai padanan pendekatan verbal yang sudah lebih mengkhalayak, dapat memberikan kontribusi dan manfaat bagi perkembangan khasanah ilmu di kalangan ummat Islam.

1. Rukun Iman dan Islam dan Ka’bah

Sebelum membahas tentang judul di atas, ada baiknya kita telaah terlebih dulu ke 6 rukun Iman dan 5 rukun Islam. Titik tolaknya adalah melalui penelaahan dari salah satu ayat kauniyah terpenting bagi ummat Islam yakni Ka’bah. Sudah sama-sama diketahui, bangunan tersebut didirikan oleh seorang Bapak Tauhid, nabi Ibrahim as. Secara nomor urut kenabian dari 25 nabi yang wajib diimani, beliau adalah nabi ke 6. Ternyata nilai 6 ini, secara langsung memiliki sebuah korelasi yang jelas dengan bangunan Ka’bah itu sendiri yang berbentuk kubus dengan jumlah 6 sisi. Nilai inipun secara langsung terkoneksi dengan jumlah rukun Iman. Selanjutnya, bila kita kaitkan dengan sistematika nomor urut surat, surat Ibrahim terletak pada surat ke 14. Ke dua nilai pada 14 bila dijumlahkan (1 + 4) adalah 5. Bukankah nilai inipun secara langsung terkoneksi dengan jumlah rukun Islam?.

2. Makna Simbolik Ka’bah :

Mari kita amati bangunan Ka’bah dengan visualisasi sederhananya :

Ka'bah

  • Satu-satunya ritual yang berhubungan/berhadapan secara langsung dengan Ka’bah adalah Thawaf (berputar mengelilingi Ka’bah).
  • Ada 4 sisi yang di kelilingi, yaitu sisi ke 1,2,3,4. Bila dijumlahkan adalah 1+2+3+4=10.
  • Berarti sisi bagian bawah Ka’bah adalah sisi ke 5 dan sisi bagian atas adalah sisi ke 6.
  • Coba kita urut secara terbalik, dari sisi atas (6), sisi bawah (5) lalu sisi yang di kelilingi/thawaf (10)
  • Substitusi nilai 6 kedalam abjad hijaiyah adalah abjad Ha (ح).
  • Substitusi nilai 5 kedalam abjad hijaiyah adalah abjad Jim (ج).
  • Substitusi nilai 10 kedalam abjad hijaiyah adalah abjad Ra (ر).
  • Ke 3 hasil subsitusi di atas digabungkan : Ha-Jim-Ra: atau dapat membentuk kata (حجر) : HIJR (batu). Bukankah Ka’bah bangunan terbuat dari batu?
  • Surat Hijr (Al Hijr) di Al Qur’an adalah surat ke 15, dengan jumlah 99 ayat (nilai 99 : Asma Ul Husna : simbolisasi dari sebuah kesempurnaan). Nilai 15 + 99 = 114 (jumlah surat dalam Al Qur’an).
  • Secara singkat dapat disimpulkan bahwa kesempurnaan Iman dan Islam, haruslah berpedoman pada Al Qur’an (sebagai huda linaas, petunjuk bagi sekalian manusia).

Sekarang makin jelaslah makna dari Qs. 2, Al Baqarah 150 :
“Dan dari mana pun engkau (Muhammad) keluar, maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, maka hadapkanlah wajahmu ke arah itu, agar tidak ada alasan bagi manusia (untuk menentangmu), kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, agar Aku Sempurnakan nikmat-Ku kepadamu, dan agar kamu mendapat petunjuk.”.

Tentunya makna ayat di atas bukanlah bermakna harfiah, karena bagaimana mungkin dan terlalu amat sederhana bila makna “dari mana saja engkau keluar” dan “di mana saja engkau berada hadapkanlah wajahmu ke Masjidil Haram” dimaknai dan dilaksanakan secara fisik sesuai harfiahnya. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi bila semua ummat muslim di seluruh dunia melakukan hal ini sebagaimana makna harfiah nya (masing-masing menghadapkan wajahnya ke Masjidil Haram) di mana dan kapanpun! Sangat tidak mungkin dilaksanakan. Akan tetapi, apabila ayat tersebut dimaknai lebih mendalam, dimana simbolisasi Masjidil Haram (dimana terdapat Ka’bah disana), dan dari uraian numerik di atas, dijelaskan bahwa Ka’bah adalah sebuah simbolisasi dari Al Qur’an, maka sangat jelas maknanya, bahwa dari mana saja kita keluar dan di mana saja kita berada selalulah berpedoman pada Al Qur’an.

Lanjutkan baca

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

ALLAHUMA SHOLI’ALA MUHAMMAD


ukiran lafadz

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

ASMAUL HUSNA


COVER ALQURAN

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Sebelum Al Qur’an berbentuk buku / kitab, ucapan Asmaul Husna hanya berupa vokal / bunyi verbal, penyampaian hanya dari mulut ke mulut kemudian di hafal sampai 99 kata Asmaul Husna tersebut. Pada jaman setelah ditemukan mesin cetak kertas dan buku, barulah Al Qur’an disusun halamannya sesuai sistem dan struktur Al Qur’an yang di anjurkan oleh Nabi Muhammad SAW kepada para sahabatnya sampai dengan sekarang. Walaupun berbeda format barisnya, tetapi jumlah dari Ayat, Surat dan Juz tetap sama, yaitu 6236 Ayat, 114 Surat dan 30 Juz.

Kenapa halaman Asmaul Husna pada kitab Al Qur’an pada umumnya di letakan pada sampul atau lembaran pertama kitab Al Qur’an?.. Pasti ada pesan yang disampaikan kepada kita sebagai pembacanya. Asma’ul Husna di kitab Al Qur’an selalu dihiasi dengan lingkaran atau motif-motif grafis yang indah oleh penulis atau pencetaknya. Tetapi itu hanya sekedar hiasan, yang penting kata-kata ke 99 Asmaul Husna-nya tersebut.

Jumlah kata Asmaul Husna ada 99, kenapa jumlahnya 99?.. kenapa tidak pas 100?.. 150?.. atau 1000?.. Bukankah Allah SWT itu Maha segala-galanya?.. Mari kita berpikir dan mengkaji, pasti itu pun ada pesan juga bagi kita.. Untuk siapakah Al Qur’an itu diturunkan?.. Tentu buat makhlukNya yang bernama Manusia setelah Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertamanya di Gua Hiro. Pesannya kurang lebih yang sudah kami mengkajinya, insyaAllah mendekati benar yaitu menceritakan proses janin manusia selama di Alam Rahim Ibu, 9 bulan 9 hari (9-9) sesuai juga dengan rata-rata hasil penelitian para Dokter kandungan di Dunia. Kemudian pada hari ke 10, melahirkan.

Allah SWT meniupkan Ruuh ke Janin di rahim Ibu pada usia Janin 3 bulan 10 hari [AQ.S: 15.Al Hijr:29 > "Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruuh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud"], orang medis bilang hari ke 90 sampai dengan hari ke 100 Janin sudah bisa bergerak, bahkan suka menendang atau mendorong-dorong perut Ibunya dari dalam rahim. Ke 99 Asma’ul Husna berproses sesuai perkembangan Janin, artinya ke 99 Asmaul Husna itu ditiupkan Allah SWT ke si Janin tersebut untuk bekal hidupnya di Dunia pada saat Janin belum bergerak sampai hari yang ditentukan Allah Janin itu lahir dari rahim Ibu, maka sifat-sifat / nama-nama baik Allah itu melekat di tubuh Janin kemudian dilahirkan ke Dunia yang kita sebut Bayi. Itulah sebabnya kenapa Bayi selalu kita bilang masih suci, ternyata masih melekat pada diri Bayi itu sifat dan nama baik Allah SWT. Selanjutnya tanggung jawab orang tuanyalah atas perkembangan bayi itu seorang Muslim atau non Muslim, baik atau jahat, pintar atau bodoh, dsb..

Coba perhatikan ke kitab Al Qur’an yang ada di dekat Saudara-saudari, setelah cover bagian dalam yang ada Asmaul Husna halaman berikutnya adalah ada lingkaran (circle) yang bertuliskan kaligrafi “AL QUR’AN NUUR KARIIM”. Lingkaran itu mensimbolkan Rahim Ibu, sedangkan tulisan kaligrafi itu mensimbolkan Janin. Jadi, sejak dalam rahim Ibu kita sudah dibekali Asmaul Husna dan Al Qur’an (kauniah) oleh Allah SWT.

Pada saat bersalin / mau melahirkan seorang Ibu sering mengalami sakit perut seperti mau buang air besar, itu sebagian tanda-tanda umumnya akan lahir seorang bayi atau bayi kembar hamba Allah ke alam Dunia. Sebelum Bayi lahir seorang suster / bidan / dokter selalu bilang ke si Ibu.. “Sabar ya bu, masih baru PEMBUKAAN 1, PEMBUKAAN 2, PEMBUKAAN 3, dst..”. Apakah yang dimaksud Pembukaan itu?.. Kita lihat lagi ke Al Qur’an sesudah halaman yang ada lingkaran, selanjutnya adalah halaman 2 Al Qur’an berisi Surat ke 1. Al Fatihah, yang artinya PEMBUKAAN dengan total 7 ayat. Halaman berikutnya adalah halaman 3 Al Qur’an yang berisi Surat ke 2. Al Baqarah, dengan total 4 ayat. Pada ayat pertama di surat 2. Al Baqarah bertuliskan “Aliif Laam Miim”. Apabila kita singkat inisial huruf hijaiyah itu terdiri dari huruf A – L – M. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bahwa singkatan A-L-M itu adalah ALaM. Benar atau tidak saya kembalikan kepada pembaca,namun ada hubungannya dengan lahirnya Bayi dari mulai alam Rahim ke ALaM Dunia setelah melewati tahapan Asma’ul Husna, lingkaran kaligrafi Al Qur’an Nuur Kariim, Al Fatihah kemudian Surat 2. Al Baqarah ayat 1. Sedangkan ayat-ayat selanjutnya adalah menjelaskan sesuai tafsir kewajiban manusia untuk membaca Al Qur’an sebagai Huuda, Nuur, Furqan dan banyak lagi sebutan nama-nama lain dari Al Qur’an.

Demikianlah Al Qur’an sudah diturunkan oleh Allah SWT melalui malaikat Jibril [AQ.S 2.Al Baqarah:97 > "Katakanlah: "Barang siapa yang menjadi musuh Jibril,maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Qur'an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah, membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman"] untuk menjelaskan dengan posisi halaman dan struktur Format Al Qur’an yang sangat luar biasa, semuanya atas izin Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW yang dilanjutkan kepada para sahabat-sahabatnya kemudian sampailah kepada kita untuk dibaca, dipahami, dikaji dan di amalkan sesuai pesan-pesan dan firman-firman Allah SWT dalam kitab Al Qur’an-NYA yang selama ini kita jaga bersama dan tidak ada perubahan di dalamnya dari Jaman Nabi Muhammad SAW sampai dengan ke tangan kita.

Atas nama pribadi, saya sebagai penulis mohon maaf apabila ada kata atau kalimat di atas yang tidak pas di hati dan pikiran pembaca pada blog halaman materi ini. Saya menulis ini karena hasil pembelajaran dan pengkajian dari seorang sumber keilmuan ini yang menurut saya mendekati kebenarannya. Apabila tulisan ini benar, berarti datangnya dari Allah SWT, Apabila ada kesalahan itu datangnya dari saya pribadi sebagai penulis.. Terimakasih sudah menyempatkan untuk membaca di blog kami ini. InsyaAllah, dengan adanya kesempatan lagi saya akan menulis kembali materi di blog Keilmuan Paradigma Numerik ini.

Wassalamu’alaikuum Wr.Wb

Penulis;
Prayitno

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

RUANG DISKUSI DAN KONSULTASI


Assalamu’alaikum Wr.Wb

Kami ucapkan terima kasih kepada saudara-saudari yang tetap setia mengunjungi blog ini, semoga banyak manfaat yang di dapat setelah Anda berkunjung ke blog Majelis Pengajian Darul Qohar ini.
Dalam rangka mengakomodir permintaan saudara-saudari sekalian, maka dengan ini kami membuka ruang untuk Anda semua yang ingin berkonsultasi ikhwal problematika hidup Anda ( kesehatan, dll ) di line telpon di bawah ini :

- Tentang Buka Juz, Kesehatan, dll silahkan Hubungi:
Khoirul Abror   di Nomor Telpon : 021-87745100 / 081398098952
PIN:76691B7B atau
Prayitno Somantri : 0815-7452-5368

Catatan: Mohon maaf, untuk permintaan membuka Juz saudara/i kami hanya melayani yang datang ke Majelis Pengajian Darul Qohar.

Untuk Nomor lain yang ada/tercantum di blog ini, khusus untuk pemesanan Al-Quran dan buku-buku…

Demikian pemberitahuan ini, semoga membantu saudara-saudari semua, dan dalam tulisan ini, kami selaku pengurus mohon maaf yang sebesar-besarnya jika dalam menjawab pertanyaan saudara-saudari, maupun hal-hal lain banyak yang kurang berkenan di hati, kami mohon di buka-kan maaf yang sebesar-besarnya…
Terimakasih…

Wassalamu’alaikum Wr.Wb..

( Syahroni Nur 21 )

Dipublikasi di Uncategorized | 82 Komentar

NUMERIK AL QURAN : CIRI-CIRI AL QUR’AN FORMAT 18 BARIS


Format Al Qur’an Standar Majelis Pengajian Darul Qohar

Disadari atau tidak, Al Qur’an adalah sebuah kitab yang berisi susunan huruf, lambang sekaligus simbol. Dengan kata lain, Al Qur’an tidak hanya semata-mata bahasa bunyi atau verbal. Karena memuat lambang dan simbol, tentunya harus ada metode atau alat untuk memahami simbol tersebut.

Model pendekatan struktur Al Qur’an ini berdasarkan atas pengamatan terhadap fenomena susunan Al Qur’an dengan sistematika yang sudah kita kenal dengan tipe format cetak mushaf. Hasil pengamatan ini kemudian disusun berdasarkan isyarat-isyarat Al Qur’an yang relevan untuk dikenali hubungan strukturnya serta dianalisis maksud pesannya secara kontekstual.

Bertolak dari keyakinan bahwa Al Qur’an adalah petunjuk yang memiliki sifat terang yang menerangi dan menerangkan, maka proses penggalian pesan keilmuan yang terkandung dalam Al Qur’an sebenarnya terpulang kepada diri kita masing-masing sejauh mana kita mau membuka hati dan pikiran terhadap terangnya cahaya llahi.

Bentuk susunan Al Qur’an sangat unik dan mengesankan. Sistem Al Qur’an menunjukkan adanya sebuah titik yang seolah-olah berada diluar sistem, namun mengontrol sistem. Indikator tentang adanya titik kontrol bisa kita lihat pada ke-khas-an penempatan “satu ayat tertinggal” diakhir Juz 13. Ayat tersebut adalah QS.15 AI-Hijr ayat 1.

Seringkali kita mengingatkan bahwa format penyusunan mushaf Al Qur’an mempunyai peranan penting dalam metode struktur Al Qur’an. Sederhananya seperti cara komputer, bukankah selalu ada perintah untuk memformat terlebih dahulu disket yang baru akan dipergunakan ?.

Maka perlu ditemukan terlebih dahulu Al Qur’an yang dimaksud, dengan ciri-ciri sebagai berikut :

1.     Jumlah seluruh halaman penulisan ayat adalah 484 halaman, dimulai pada nomor halaman ke 2 sampai dengan halaman 485. Halaman 1 adalah halaman (simbol lingkaran) Al Qur’an Nuurkariim.

2.     Setiap Juz terdiri dari 16 halaman, kecuali Juz I dan Juz 3o terdiri atas  15 halaman dan 21 halaman.

3.     Setiap halaman terdiri dari 18 baris, kecuali halaman 2,3 dan 485. Halaman 2 dan 3 terdiri dari masing-masing 6 baris, sedangkan halaman 485 terdiri dari 15 baris ditambah ‘ruang kosong” setara dengan 3 baris.

4.     Halaman 2 dan 3 tercetak secara khas berbeda dengan halaman-halaman

lainnya, memiliki ornamen/hiasan.

5.     Setiap ayat ditulis selesai pada satu halaman, kecuali ayat 4 dari surat 111 Al-Lahab. Ayat tersebut ditulis berawal dari halaman 484 dan berakhir pada halaman 485 (satu ayat terputus pindah ke halaman lain).

6.     Awal Juz ditandai dengan huru-huruf yang dicetak tebal.

7.     Enam buah surat pada Juz 30 ditempatkan secara khas dalam posisi sejajar setiap barisnya dan berada pada halaman 482 Dan 483.

8.     Muqadimah surah menempati 2 baris, kecuali 3 buah surat yang muqadimahnya menempati 1 baris. Ketiga surat tersebut adalah :

-      QS. At Taubah (9).

-      QS. Al Hijr (15 ).

-      QS. An Naml ( 27 ).

9.     Tanda ruku’ berupa huruf ع (‘Ain) yang terdapat pada setiap tepi halaman Al Qur’an tercantum ditempat tanda ruku’ berakhir.

Ciri-ciri tersebut diatas menjadi tanda bantu yang sangat berguna dalam proses belajar untuk memahami, mendalami dan menggali pesan keilmuan yang terkandung didalam Al Qur’an.

Demikian sebuah pengantar dari kami, semoga bermanfaat dan menambah kecintaan kita pada Al Qur’an untuk dibaca, dikaji, dipahami, dan diamalkan,

Hormat kami yang setinggi-tingginya serta ucapan terimakasih yang sebanyak-banyak kepada alm.Bapak Luqman AQ Soemabrata atas dedikasinya dalam menemukan kajian Format dan Struktur Al-Qur’an.

Wassalam…

1. Ciri-Ciri Al Qur’an Format 18 Baris

  • Juz                                                                                           = 30
  • Surat                                                                                        = 114
  • Ayat                                                                                         = 6236
  • Jumlah Baris                                                                           = 18
  • Manzil                                                                                      =  7
  • Halaman per-Juz                                                                   = 16, kecuali Juz 1 & Juz 30
  • Jumlah’Ain/Ruku’                                                                 = 558
  • Jumlah seluruh halaman                                                       = 484 (dari 2 s /d 485)
  • Judul surat yang hanya berada pada 1 baris, yaitu surat      = At-Taubah, Al-Hijr, dan An Naml.
  • Halaman 482 & 483 tergambar sangat simetris.
  • Setiap akhir halaman habis dalam satu ayat, kecuali halaman 484 Yaitu surat AL-Lahab.
  • Awal Juz selalu tercetak huruf tebal
  • Ada 2 halaman yang masing-masing penuh terisi oleh sebuah surat, yaitu halaman 2 (QS.1 Al-Fatihah) dan 475 (QS.89 Al-Fajr).

Lampiran lampiran :

1. Halaman Memuat 18 Baris

2. Judul Surat Yang Hanya berada pada 1 Baris

3. Halaman 482 & 483 Tergambar sangat SIMETRIS

4. Setiap akhir Halaman habis dalam satu ayat, kecuali halaman 484 ( Surat AL-LAHAB ).

5. Setiap Awal Juz di cetak Tebal.

6. Ada 2 halaman yang masing-masing penuh terisi oleh sebuah surat full.

7. Huruf Yaa tanpa Titik 2, di mulai dari QS 2 ayat 18..dst.. yang umum huruf Yaa nya ada titik 2 di bawahnya..

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Syahroni Noor21

Dipublikasi di Uncategorized | 25 Komentar

PARADIGMA NUMERIK STRUKTUR AL QURAN


PENGANTAR

Numerik Al Qur’an pertama sekali digagas oleh Lukman AQ Soemabrata (1933-1996). Dan dalam tempo yang relatif tak lama, langsung saja pendekatan yang ditawarkannya disambut dengan antusias yang cukup tinggi. Mungkin karena beliau memang berhasil menghadirkan sisi-sisi  lain dari Al Qur’an yang sama sekali kurang tampak selama ini.

“Perhatikan apa yang dikatakan Al Qur’an”, demikian seruan yang pernah disampaikan oleh Ali kw. Ternyata memang benar, banyak sekali hal yang dituturkan Al Qur’an. Hanya karena kurang kepedulian dan keterbatasan, manusia menjadi kurang dapat mendengar apa-apa yang dikatakan oleh Al Qur’an. Namun bila kian digali, kian nyata firman Allah:

“Katakanlah: “Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (Qs: 18, 109)

Mungkin karena sudah jenuh dengan segala pendekatan yang ada selama ini, terasa penggalian kedalaman makna ayat-ayat terasa hanya sampai di situ-situ saja. Tak tampak adanya penyegaran yang cukup berarti. Dan tanpa mengecilkan arti pendekatan verbal, pendekatan numerik terasa seakan membawa hawa baru yang ditunggu-tunggu.

Namun sebagai sesuatu yang baru, pendekatan numerik mudah mendapat penilaian negatif, dicurigai. Namun sejalan dengan bergulirnya waktu, pendekatan numerik tampak semakin mendapat tempat di hati pecinta Al Qur’an. Memang sudah menjadi karakter dasar Al Qur’an, ia akan selalu benar tanpa menunggu pengukuhan dari manusia. Dan pada saatnya, bila ayat-ayat dimaknai dengan cara-cara yang tak bertanggung jawab, maka semua usaha tersebut akan menjadi sia-sia, dan segera saja ditinggalkan orang. Ayat-ayat hanya akan mendapat pengukuhan dan penolakan, juga, oleh ayat. Manusia hanya bisa mengambil pelajaran dan manfaat darinya.

Dan manusia yang berupaya mengerti makna numerik Al Qur’an mungkin saja terpeleset. Namun bila ada kesungguhan, ia segera akan dapat mengoreksinya. Al Qur’an adalah imam, yang dengan segala kelebihannya, akan membimbing manusia yang dengan sungguh-sungguh mempelajarinya. Tidak ada yang perlu sangat dicemaskan mengenai hal ini.

Maka dengan segala kerendahan hati, penulis menerima koreksi bila terjadi pemaknaan yang dinilai telah melampui batas. Semua terjadi karena keterbatasan penulis yang masih belajar.

Di sisi lain, Lukman AQ Soemabrata, atau kami singkat menjadi LAQS, telah menunjukkan bahwa penemuannya mampu menghadirkan banyak hal. Tanpa deskripsi panjang lebar,menjadi teori baru, ia menyusun metode yang dengannya murid-muridnya bisa belajar dan mengaplikasikan sistem pola baca yang disusunnya.

Numerik Al Qur’an LAQS paling tidak telah mengajukan dua hal, yaitu medis dan psikologi Qur’ani. Dua hal yang dikenal dalam dua disiplin ilmu umum: kedokteran dan psikologi, dalam lingkup akademis. Dalam pendekatan numerik Al Qur’an, dua hal tersebut bersatu secara metodelogis. Pada penerapan terapi penyembuhan (medis), seseorang akan dibacakan ayat-ayat disesuaikan dengan tipe masing-masing (psikologi).

Dalam kesempatan ini, dua hal tersebut tidak disampaikan, penulis hanya mengajukan sebuah paparan sederhana bagi pemula yang ingin berkenalan dengan numerik Al Qur’an. Sebagian bahan diambil dari uraian yang pernah disampaikan oleh Lukman sendiri. Namun sebagian lagi oleh murid-muridnya, salah satunya adalah dari Iskandar Soemabrata, adik dan muridnya.

Bila ada kesempatan lain, mudah-mudahan tulisan ini masih akan disampaikan lagi menjadi sebuah rangkaian yang berseri. Insya’ Allah.

Wassallam

Syahroni21

Dipublikasi di Uncategorized | 12 Komentar

MAJELIS PENGAJIAN DARUL QOHAR


Assalamu’allaikuum Wr.Wb.

Alhamdulillah hirobbil ‘alamiin.. Pada Hari Senin, 11 Oktober 2010, Majelis Pengajian kami telah terbentuk, dengan nama ” MAJELIS PENGAJIAN DARUL QOHAR / RUMAH BELAJAR DARUL QOHAR “, Setelah hampir 6 tahun kami berkumpul dan belajar tentang Paradigma Numerik Al Qur’an, maka terbentuklah susunan pengurus dari Majelis Pengajian kami. Adapun susunan pengurusnya sebagai berikut :

  • Ketua       : Marwah Ali Ashari
  • Sekertaris : Eko Budiono, Heri Trilaksono
  • Bendahara : Khoirul Abror
  • Dik-Jar     : Syahroni Nur, P. Somantri, Khoirul Anaam
  • Konselling : P. Somantri, Khoirul Abror, Khoirul Anaam
  • Humas      : Husein Supriyono, Awit, Edy Sugiharto
  • Umum       : Wartino, Tanto, Widjiarto, Syaiful, dll.

    Demikian susunan pengurus MAJELIS PENGAJIAN DARUL QOHAR untuk periode 11 Oktober 2013 s/d 10 Oktober 2016..

    Untuk Jadwal Kajian Kita Yaitu :

    1. Senin Malam Selasa Ba’da Isya s/d Selesai Oleh : Ust. Syaiful Husein (Kajian Numerik).
    2. Rabu Ba’da Dzuhur s/d Ba’da Maghrib oleh : Bpk. Prayitno (Kajian Numerik Utk Pemula).
    3. Jum’at malam Sabtu  Ba’da Isya’  Oleh : Ust.Chairul Aman (Kajian Numerik/Psikologi Al-Quran).
    4. Senin s/d Sabtu Ba’da Dzuhur s/d Isya oleh Bpk. Prayitno,Khoirul Abror (Konsultasi umum dan penjualan Al Qur’an/buku-buku).
    5. Kepada para masyarakat yang ingin mengkaji Al Qur’an dari sisi Numerik dapat hadir di waktu-waktu yang telah tertulis di atas…

      Wassalam

      Syahroni21

  • Dipublikasi di Uncategorized | 82 Komentar